Paul Tobing On Knowledge

Intellectual Capital dan Value Perusahaan

Pengantar: Peranan Intellectual Capital (IC) semakin strategis. Bahkan akhir-akhir ini memiliki peran kunci dalam upaya melakukan lompatan peningkatan value di berbagai perusahaan. Mari kita simak tulisan berikut ini. Beberapa tahun terakhir ini sudah ada beberapa perusahaan yang melengkapi laporan kinerjanya dengan laporan IC. Langkah ini didorong oleh kesadaran bahwa laporan keuangan tradisional telah kehilangan relevansinya. Nah untuk menyimak lebih jauh, mari kita simak tulisan berikut ini!

Perhatian perusahaan terhadap pengelolaan IC beberapa tahun terakhir ini semakin besar. Hal ini disebabkan adanya kesadaran bahwa IC merupakan landasan bagi perusahaan untuk unggul dan bertumbuh. Kesadaran ini antara lain ditandai dengan semakin seringnya istilah knowledge based company muncul dalam wacana bisnis. Istilah tersebut ditujukan terhadap perusahaan yang lebih mengandalkan pengelolaan IC sebagai sumber keunggulan dan longterm growth nya.

Knowledge based company adalah perusahaan yang diisi oleh komunitas yang memiliki pengetahuan, keahlian, dan keterampilan. Komunitas ini memiliki kemampuan belajar, daya inovasi, dan kemampuan problem solving yang tinggi. Ciri lainnya adalah perusahaan ini lebih mengandalkan knowledge dalam mempertajam daya saingnya, hal ini digambarkan dengan semakin mengecilnya investasi yang dialokasikannya untuk physical goods, sementara untuk soft factor mendapat alokasi investasi yang semakin besar.

Investasi dalam soft factors ini disebut sebagai investasi di bidang IC. Sebagai akibatnya, value dari knowledge based company utamanya ditentukan oleh IC yang dimiliki dan dikelolanya. Tod Newcombe mengatakan bahwa sekitar 70% dari nilai perusahaan adalah berupa IC, bahkan 94% dari market value Microsoft Corp. adalah berupa IC.

Mengapa IC semakin penting dan strategis? Jawabannya adalah intensitas persaingan yang semakin tinggi dan perubahan yang tidak lagi hanya bersifat dinamis tetapi juga sudah disruptif. Dalam kondisi seperti ini organisasi yang dapat mempertahankan eksistensinya adalah yang adaptif dan inovatif. Prasyarat untuk adaptif dan inovatif adalah organisasi memiliki kapabilitas belajar dan inovasi yang tinggi.

Sampai saat ini masih ada berbagai definisi tentang Intellectual Capital. Tom Stewart mendefinisikan IC sebagai the sum of everything everybody in your company knows that gives you a competitive edge in the market place. Sedangkan Leif Edvinsson, Skandia, dan Pat Sullivan mendefinisikan IC sebagai knowledge yang dapat dikonversikan menjadi value. Model yang paling populer dari IC adalah seperti pada Gambar 1, yang mengklasifikasikan IC menjadi tiga bagian Capital yaitu Structural, Human dan Customer.

 

 

 

 

Gambar 1. Value Creation dalam Model Intellectual Capital

Human Capital menyangkut competency, skills, brainpower, expertise, kreatifitas, problem-solving capability, leadership, entrepreneurial dan managerial skills serta tacit knowledge yang embedded di SDM perusahaan.

Structural Capital merupakan kapabilitas knowledge dari perusahaan yang memampukannya merespon kebutuhan dan tantangan pasar berupa teknologi, methodologi, dan proses.

Gambar 1. Value Creation dalam Model Intellectual Capital

Customer Capital menyangkut relasi, feedback, input terhadap product/ service, suggestion, experience dan tacit knowledge dari pelanggan. Istilah customer diperluas sehingga juga mencakup supplier, distributor, dan otoritas atau pemain lain yang dapat berkontribusi terhadap value chain.

Ketiga jenis Capital tersebut membentuk tiga lingkaran yang saling mengait dan disatukan oleh sebuah segitiga. Value creation tergantung kepada proses iteratif dari Human Capital ke Structural Capital, Structural ke Customer, Customer ke Human Capital dan sebaliknya.

Beberapa tahun terakhir ini sudah ada beberapa perusahaan yang melengkapi laporan kinerjanya dengan laporan IC. Langkah ini didorong oleh kesadaran bahwa laporan keuangan tradisional telah kehilangan relevansinya. Hal ini dibuktikan dengan adanya gap yang signifikan antara nilai buku perusahaan dengan persepsi pasar. Sehingga dapat dimengerti jika Bill Gates pernah berkata, ”Our primary assets, which are our software and our software-development skills, do not show up on the balance sheet at all”.

Sebagaimana disebutkan dalam salah satu definisi IC di atas, dikatakan bahwa IC merupakan knowledge yang dapat dikonversi menjadi value. Proses konversi IC menjadi value dapat digambarkan pada Gambar 2 berikut.

Dari ilustrasi tersebut tergambar bahwa Intellectual capital merupakan fundasi yang melandasi proses value creation. Dengan memanage IC maka peningkatan revenue merupakan sesuatu yang dicapai by design dan merupakan hasil akhir dari efek ganda yang bergulir dari proses iteratif yang intensif antar elemen-elemen IC itu sendiri, antara IC dengan aset bisnis perusahaan dan berbagai inisiatif yang mengkonversikan IC dan aset bisnis lainnya menjadi value.

Gambar 2 Mekanisme Konversi IC menjadi Value

Dari mekanisme konversi yang diilustra-sikan di atas dapat dipahami bahwa strategi dan inisiatif perusahaan hanyalah puncak gunung es. Kunci sukses suatu perusahaan ditentukan oleh dasar gunung es yang bernama IC, yang merupakan sumber energi dan inspirasi yang tak habis-habisnya bagi insan perusahaan dalam melaksanakan strategi perusahaan.

1 Response to "Intellectual Capital dan Value Perusahaan"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: