Paul Tobing On Knowledge

Menyambut Pemimpin Altruistis (sudah dimuat pada Harian Pikiran Rakyat, 18 Januari 2012)

Posted on: January 27, 2012

Dalam suatu acara yang penulis ikuti di Solo, Jokowi  datang ke acara tersebut hanya untuk mengucapkan selamat datang kepada peserta dan memasarkan tempat-tempat yang menarik dikunjungi atau dibeli di Solo. Dengan fasih dia mengingatkan agar jangan sampai melewatkan tempat-tempat wisata, kuliner dan belanja di Solo. Ini merupakan kejadian langka, melihat seorang kepala daerah yang begitu peduli kepada rakyatnya.

Ditengah mayoritas kaum elit dan pejabat negara Indonesia yang suka memamerkan dan menuntut berbagai macam keistimewaan, kemunculan perilaku pemimpin seperti yang ditunjukkan oleh Dahlan Iskan (Meneg BUMN), Joko Widodo (Walikota Solo) dan mungkin pemimpin lain yang tidak terekam media, mambawa air segar di tengah gersang dan keringnya perilaku kepemimpinan di negeri ini.

Perilaku seperti itu merupakan sifat altruisme yang saat ini sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia, yang sangat haus akan empati dan keberpihakan dari para pemimpin. Rakyat tentu tidak butuh pidato-pidato yang bernuansa pro-rakyat, tetapi selesai pidato,  pemimpin dan rombongannya langsung pergi ke suatu tempat, dan ditengah kemacetan yang akut di jalan raya, sang pemimpin masih menuntut  perlakuan istimewa. Rakyat membutuhkan tindakan nyata seperti yang ditunjukkan Dahlan Iskan (DI) dan Joko Widodo (Jokowi).

Altruisme menurut Sarabia (2007) berkaitan dengan keinginan seseorang (pemimpin) untuk mengembangkan orang lain. Kepemimpinan altruistis diindakasikan dengan adanya kerelaan berkorban dan menanggalkan berbagai keistimewaan yang memang secara sah dimiliki seorang pemimpin. Obsesi pemimpin altruistis adalah bagaimana memajukan dan mengembangkan orang yang dipimpinya. Pemimpin jenis ini tidak sempat berpikir untuk mengakumulasi berbagai sumberdaya dan fasilitas untuk semakin meninggikan dirinya apalagi untuk mempertahankan kekuasaannya. Sehingga perilaku seperti ini sering aneh sekaligus menarik di mata publik, tetapi juga dapat dianggap mengganggu kenyamanan para pemimpin lain.

Orisinalitas sikap merupakan salah satu ciri kepemimpinan altruistis, mereka dapat merasa lepas mendemonstrasikan sikap-sikap altruistisnya. Karena memang sifat ini sudah menyatu dalam dirinya, sehingga tidak terkesan canggung karena memang bukan di buat-buat. Sehingga dia tidak perduli jika orang lain mempertanyakan motivasi dibalik berbagai tindakannya bahkan dia tidak begitu memikirkan dampak tindakannya terhadap atasannya atau pemimpin lain. 

Sebenarnya banyak sifat kepemimpinan altruistis ini di tanah air, tetapi kebetulan kurang mendapat sorotan media sehingga luput dari perhatian publik, karena mereka memang orang biasa bukan pejabat negara seperti DI dan Jokowi. Guru, dokter dan relawan lainnya yang secara sadar mengabdikan dirinya di berbagai daerah yang sulit dijangkau adalah contoh dari pemimpin altruistis.

Kemunculan pemimpin jenis ini di kalangan elit bangsa merupakan sesuatu yang perlu disambut dengan positif. Walaupun terasa nuansa politisnya sikap DI dan Jokowi sudah membangunkan dan (mudah-mudahan) menyadarkan pemimpin-pemimpin negeri ini bahwa rakyat sangat haus dengan pemimpin-pemimpin yang secara nyata menunjukkan keberpihakan yang tulus terhadap mereka.

Dampak lain dari sikap-sikap altruistis ini adalah munculnya keyakinan baru bahwa pakem-pakem yang berlaku selama ini dalam kepemimpinan politik dan bisnis, bukan sesuatu yang tabu untuk dilanggar apalagi kalau semua sikap itu dilakukan untuk kemajuan bersama. Sebagai contoh, ketika masih banyak direksi dan pejabat BUMN yang menuntut berbagai kemewahan dengan alasan untuk menjaga citra perusahaan, saya yakin sikap DI yang sangat bersahaja tidak menjatuhkan tetapi justru akan meningkatkan citra  BUMN di mata pelanggan dan masyarakat.

Meskipun menarik perhatian publik, pemimpin altruistis memiliki kelemahan, yaitu potensial terjebak atau terlarut dengan sikap keberpihakannya, sehingga dia lupa membawa dan mentransformasikan orang yang dipimpinnya menuju visi yang dimilikinya. Untuk mengatasi potensi kelemahan ini, sifat altruisme ini perlu dilengkapi dengan visi yang kuat dan kemampuan manajemen mikro yang memadai. Dengan demikian ada jaminan bahwa tahapan-tahapan menuju visi dapat dicapai by design dan terukur.

Kemudian dalam konteks kepemimpinan politik, mereka perlu mempertajam kemampuan lobi politiknya. Karena biasanya pemimpin altruistis memiliki sifat idealis, mereka perlu berkorban untuk memoderasi idealismenya agar bisa cocok dengan realitas sistem politik yang ada. Tentu semua hal ini dilakukan dengan memosisikan sistem politik hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan, sambil tetap menjaga kemurnian hati dan ketulusan visi mereka.

Ada segelintir orang yang mempertanyakan apa motivasi dibalik sikap-sikap yang tunjukkan DI dan Jokowi. Tetapi kita tidak sepatutnya terlalu cepat menuduh, terutama karena keduanya memang bukan baru kali ini menunjukkan sikap-sikap keberpihakan seperti itu dan kinerja organisasi yang mereka pimpin  juga terbukti memuaskan. Selain itu, karena pemimpin juga dibentuk oleh orang yang dipimpinnya, kita perlu menyambut dan memberi kesempatan berkembangnya jenis kepemimpinan seperti ini, sehingga semakin banyak pemimpin altruistis yang muncul ke permukaan.  (Paul Lumbantobing, Kandidat Doktor Ilmu Manajemen, FE UNPAD)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: