Paul Tobing On Knowledge

Collabonomic

Posted on: December 22, 2008

Oleh : Paul L. Tobing

 

Globalisasi telah membuat batas-batas ekonomi dan politik antar negara semakin berkurang relevansinya. Globalisasi yang diakselerasi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, membuat dunia sudah menjadi satu kesatuan, dimana setiap kejadian di satu negara selalu berpengaruh kepada negara-negara lainnya. Negara yang terisolasi biasanya akan menderita dan tidak dapat menikmati berkat-berkat dari apa yang dinamakan globalisasi. Tetapi sisi lain dari “berkat global” adalah “krisis global”, dimana

krisis yang dialami suatu negara (apalagi negara besar atau kuat ekonominya) akan cepat menular ke negara yang lain.

 

Krisis global, baik itu krisis keuangan yang masih berlangsung saat ini, maupun krisis-krisis global lain seperti energi, pangan dan lingkungan hidup, tidak lagi dapat diatasi oleh negara-negara tertentu secara sendiri-sendiri. Selain itu tidak ada satu aspekpun dalam kehidupan manusia yang tidak terkait dengan bidang-bidang lainnya. Sehingga dalam bidang ekonomi misalnya, untuk mengatasi krisis finansial, resesi ekonomi dan untuk menjaga pertumbuhan dan stabilitas ekonomi membutuhkan upaya bersama dari seluruh negara di dunia ini, sehingga para pakar ekonomi memunculkan istilah collabonomic.

 

Istilah Collabonomic masuk pertama kali ke telinga penulis dalam event World Knowledge Forum yang berlangsung di Seoul Korea Selatan pertengahan Oktober 2008 yang lalu. Istilah ini muncul dari kata Collaboration dan Economic, yaitu berupa upaya kolaboratif/bersama dari seluruh negara-negara di dunia untuk mengatasi berbagai masalah ekonomi dan menjaga pertumbuhan serta menstabilkan ekonomi dunia dengan mempertimbangkan faktor lingkungan hidup di dalamnya.

 

Prinsip Collabonomic

Prinsip utama collabonomic adalah co-existency antar negara secara makro dan antar berbagai perusahaan secara mikro. Co-existensi itu dapat bersifat kultural yaitu berpadunya nilai-nilai timur dan barat, bersifat bisnis misalnya kerja sama antara perusahaan kecil dan menengah dengan perusahaan besar, dan bersifat politis berupa kerja sama antar pemerintahan yang dapat mengarah kepada internasionalisasi pemeritahan, ekonomi bahkan pendidikan.

 

Prinsip ko-eksistensi ini menuntut adanya kemampuan dari berbagai perusahaan dalam menghasilkan keunikan produk dan jasa yang ditawarkannya. Sehingga perusahaan tidak lagi berjuang untuk menjadi yang terbaik diantara perusahaan-perusahaan yang menawarkan produk yang sama, melainkan perusahaan berusaha mendiferensiasi posisi, produk, dan jasanya di dalam industri sejenis. Dengan demikian produk dan jasa yang dihasilkan dalam sistem ekonomi yang kolaboratif adalah produk dan jasa yang unik yang tidak ditawarkan perusahaan lain.

 

Pendorong Collabonomic

Kesadaran akan pentingnya koloborasi ini sudah mulai muncul ketika negara-negara yang selama ini menjadi tumpuan penyelesaian berbagai krisis global seperti negara-negara G7, G8 and OECD, mulai menyadari keterbatasannya dalam mengatasi berbagai masalah. Negara-negara inilah yang sekarang mulai mengambil inisiatif untuk menggalang usaha bersama dalam menjawab dan menangani berbagai isu-isu global.

 

Faktor  pemicu collaboranomic adalah  krisis keuangan yang masih berlangsung saat ini. Namun paska krisis keuangan, upaya kolaborasi ini nampaknya akan semakin dibutuhkan untuk menangani berbagai isu-isu global, seperti perubahan iklim, krisis energi, krisis pangan dan krisis ekonomi (berikutnya), bahkan bisa dikembangkan untuk menangani isu-isu global lainnya seperti politik, penataan ekosistem, kependudukan, tenaga kerja, budaya dan pendidikan.

 

Collabonomic dan Model Bisnis Baru

Collabonomic juga akan memiliki pengaruh terhadap manajemen perusahaan atau organisasi bisnis, sehingga melahirkan model-model bisnis yang lebih ramah terhadap lingkungan. Pemanasan global dan penurunan kualitas lingkungan hidup, misalnya, sudah menuntut dihilangkannya pemisahan antara ekonomi dan lingkungan hidup atau antara  manajemen perusahaan dengan lingkungan hidup. Sehingga akhir-akhir ini muncul istilah-istilah  “green management” atau “eco-friendly”, “business-ecosystem” yang merujuk kepada model-model bisnis yang sudah mengintegrasikan masalah lingkungan hidup di dalam bisnisnya. Contoh perusahaan yang sudah mulai menerapkan sistem pengelolaan perusahaan yang berwawasan lingkungan adalah Dow Corning yang merupakan joint venture antara Dow Chemical dan Corning Inc., yang telah menerapkan model bisnis yang berwawasam lingkungan, dimana perusahaan tidak lagi hanya mencari untung, tetapi juga harus memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat (social responsibility) dan tanggung jawab terhadap planet bumi ini (environmental responsibility) disamping memiliki tanggung jawab bisnis terhadap pemegang sahamnya.

 

 

Dampak Collabonomic terhadap peta persaingan

 

Dalam buku Blue Ocean dikatakan bahwa perusahaan yang berhasil memiliki keunikan dalam produk dan jasanya, akan mampu membuat kompetisi tidak relevan. Kompetisi yang berdarah-darah, diakibatkan begitu homogennya produk dan jasa yang dihasilkan dan ditawarkan beberapa perusahaan. Michael Porter menyebutnya sebagai berkompetisi dengan banyak pemain pada arah dan jalan yang sama. Sehingga kompetisi zaman kini sangat rentan untuk saling menabrak dan saling membunuh. Dan ketika sebuah perusahaan kalah kompetisi dan bangkrut, maka akan menimbulkan memiliki efek berantai bahkan bisa berakibat krisis apabila kebangkrutan ini menimbulkan ketidakpercayaan kolektif masyarakat terhadap industri sejenis.

 

Collabonomic lebih menekankan coopetion lebih dari pada kompetisi. Dengan koopetisi sejumlah perusahaan dalam industri sejenis, bekerja sama meningkatkan kue ekonomi (market size), dan membagi pasar itu dengan mencari keunikan masing-masing. Dalam kondisi yang demikian, daya survival (sebagai pengganti istilah daya saing) terletak pada kreatifitas dan kemampuan inovasi dari suatu perusahaan. Sehingga kompetisi yang tidak kreatif seperti perang harga antar operator seluler dan penerbangan di tanah air merupakan sesuatu yang sudah tidak zamannya lagi.

 

 

Collabonomic dan Strategy Perusahaan

 

Ada berbagai konsep strategi lama yang sudah tidak relevan lagi dalam sistem collabonomic. Konsep yang melihat strategi sebagai tindakan, dimana perusahaan berusaha memformulasikan rencananya untuk melakukan merger, konsolidasi atau internasionalisasi, outsource atau melipatkan gandakan alokasi budget untuk bidang tertentu seperti pembangunan infrastruktur atau riset.

 

“Penyimpangan” berikutnya adalah melihat strategi sebagai aspirasi, misalnya merencakan langkah-langkah untuk menjadi pemimpin dalam industri sejenis. Kemudian yang paling sering kita lihat dilakukan berbagai perusahaan adalah melihat strategi sebagai visi. Terakhir banyak pemimpin perusahaan melihat strategi sebagai cara melakukan sesuatu dengan lebih baik atau lebih efektif.

 

Dalam collabonomic ada pergeseran strategi perusahaan dari berusaha menjadi yang terbaik dan terdepan menjadi  perusahaan yang unik. Keunikan merupakan sesuatu yang diinginkan dan menjadi “hak “pelanggan. Sehingga dalam formulasi strategi perusahaan harus dijabarkan  keunikan proposisi nilai perusahaan, rantai nilai yang berbeda,   kejelasan langkah mana yang diambil dan tidak perlu ditempuh, aktifitas-aktifitas dalam rantai nilai yang terpadu dan saling menguatkan. Inti strategi bukan lagi bagaimana menjadi yang terbaik, tetapi bagaimana mencari cara dan jalan yang berbeda dari perusahaan lain dalam mencapai tujuan bisnisnya. Dengan perkataan lain, perusahaan harus kreatif, seniman yang kreatif tidak pernah mematikan seniman yang kreatif lainnya, mereka bahkan bisa berkolaborasi untuk menghibur para pelanggannya.

Paul Lumbantobing, praktisi Knowledge Management

7 Responses to "Collabonomic"

Mr. Paul, its verygood article. We cant hold on the pressure of globalization.

Thanks 4 your comments Mr Monash

inspirative…

tulisan menarik,semestinya semua perusahaan indonesia mencobannya, sayangnya koloborasi ini justru telah dilakukan oleh organisasi kriminal (mafia) diseluruh dunia, ketimbang menjadi penguasa kejahatan dunia, mereka (mafia) bekerjasama dengan organisasi lokal kriminal sejenis untuk mendapatkan keuntungan, seperti bertukar produk,praktek pencucian uang, penyelundupan dsb…kita ingat bagaimana mafia US bekerjasama dengan mafia Italia dalam penyeledupan heroin thn 70an, atau mafia CHina dengan US dalam penyeldupan manusia, atau Mafia Rusia dengan organisasi kejahatan lainnya dalam penyeludupan senjata…ironisnya di dunia kejahatan mereka punya perinsip saling percaya sesuatu hal…semestinya pengusaha2 indonesia bisa seperti itu,memiliki jaringan untuk menghadapi krisis global ini…

Terima Kasih untuk komentarnya, memang kadang sesama “preman” lebih baik kerjasamanya dari pada sesama orang yang mengaku orang “baik-baik”. Salam

Although my Indonesian is a bit rusty these days, I still managed to follow the major points made in this article. And I particularly liked the term “collabonomics”.

Thanks for your comment Jan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: