Paul Tobing On Knowledge

Melupakan Esensi, Menuai Krisis

Posted on: November 20, 2008

 Oleh  Paul L. Tobing

 

Esensi yang berasal dari katan essence yang menurut kamus Longman berarti the most basic and important quality of something, merupakan kata yang ramai-ramai dilupakan dalam berbagai ranah kehidupan di tanah air tercinta ini. Akibatnya kita mencurahkan banyak tenaga, pikiran, biaya dan sumber daya lainnya untuk hal-hal yang kurang penting atau mengurus kulit-kulit suatu permasalahan tanpa sama sekali menyentuh apalagi menyelesaikan inti dari permasalahan itu sendiri.

 

Dalam berdemokrasi, kita sudah kehilangan esensi berdemokrasi dari mewujudkan kedaulatan rakyat menjadi mewujudkan keinginan para elit bermodal besar untuk tampil dalam panggung politik dan kekuasaan di negeri ini. Munculnya empat puluhan partai peserta pemilu, sebenarnya tidak menggambarkan gairah dan euforia rakyat untuk berdemokrasi, tetapi itu lebih didorong keinginan para politisi bermodal untuk memenuhi hasratnya untuk kembali berkuasa. Ongkos sosial dan finansial yang dikeluarkan untuk mengelola partai-partai ini tentu sangat besar, apalagi tanpa dibarengi adanya jaminan bahwa partai-partai itu akan memberikan manfaat bagi bangsa dan negara ini.

 

Dibidang hukum, khususnya dalam kasus jaksa Urip dan Artalyta serta BLBI, betapa kita dengan mudah melihat para penegak hukum berperilaku seolah-olah melupakan esensi hukum itu, walaupun kita yakin mereka tidak bisa membohongi nurani mereka dalam memahami esensi hukum itu, tetapi mereka secara sengaja telah mengabaikannya. Boleh dikatakan melupakan esensi ini dengan sengaja paling banyak dipertontonkan oleh para penegak hukum (polisi, jaksa dan pengacara) di negara ini.

 

Di bidang bisnis mengabaikan esensi ini dapat dilakukan dengan window dressing, dengan memberi kesan seolah kinerja tetap bagus dengan merekayasa laporan keuangan atau membagikan jasa produksi walau kinerja sudah turun. Di Wall Street kita menyaksikan orang melakukan demo untuk memprotes para anggota direksi perusahaan yang sangat rakus meraup bonus perusahaan, dimana kerakusan eksekutif ini ditenggarai sebagai faktor yang menyumbang memburuknya krisis finansial saat ini.

 

Dalam hajat pesta demokrasi tahun depan, kita akan melihat para peserta pesta akan menarik perhatian kita dengan politik pencitraan yang berbiaya miliaran rupiah, dan senyum mereka, vokal mereka dan apa yang diucapkan mereka adalah hasil kerja suatu tim yang dibayar untuk memanipulasi persepsi para penonton yang mereka anggap adalah orang-orang bodoh yang mudah ditipu.

 

Dalam bidang olah raga, dalam ajang PON berbagai propinsi hanya ingin memperbaiki peringkatnya, tetapi melupakan esensi berupa kewajiban membangun budaya sportivitas di daerahnya masing-masing. Akibatnya ada beberapa propinsi yang berhasil meningkatkan peringkatnya di PON, tetapi dengan jalan mengimpor atlit secara berlebihan dari propinsi lainnya.

 

Akibat Melupakan Esensi

Esensi adalah substansi yang paling mendasar dari suatu isu. Maka tanpa menyelesaikannya apalagi tidak menyentuhnya, tidak akan ada penyelesaian apalagi kemajuan. Klaim bahwa sebuah pemerintahan atau sebuah korporasi telah mengalami suatu kemajuan tanpa menyentuh isu-isu yang esensial di dalam suatu negara atau organisasi adalah sebuah pernyataan yang cenderung menipu dan membohongi masyarakat, dan itu akan mengakibatkan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap institusi negara atau perusahaan.

 

Melupakan esensi juga akan mengakibatkan biaya sosial dan ekonomi yang tinggi, karena sebagian besar sumber daya  dan dana dicurahkan untuk mengurusi dan merapikan “bungkus” suatu persoalan tanpa menyentuh persoalan itu sama sekali. Bungkus itu dapat berupa kegiatan-kegiatan seremonial, pencanangan, perayaan, kunjungan pejabat ke LN dan daerah, dan kegiatan-kegiatan yang berisi kepalsuan lainnya.

 

Dan akibat ultimat dari melupakan esensi adalah kita tidak pernah bergerak maju, hanya kelihatan seolah-olah telah maju, dan jika kemasannya sudah dibuka, akan terlihat bahwa tidak ada perubahan apa-apa. Atau kita hanya seperti seorang miskin yang meminjam pakaian dan perhiasan bagus untuk menghadiri pesta, sepulang dari pesta dia akan semakin miskin lagi karena harus membayar sewa dari semua yang dia kenakan. 

 

Agar bangsa ini dapat maju, maka para pemimpin dan elit politik harus menyelesaikan hal-hal yang esensial. Untuk dapat menyelesaikan hal-hal yang esensial dibutuhkan kemampuan membedakan mana yang esensial dan yang tidak, dan itu adalah esensi dari kepemimpinan itu sendiri. Kemampuan membedakan itu tidak tergantung kepada kemampuan intelektual, tetapi lebih kepada ketajaman insting yang dibentuk oleh nurani yang murni.

 

Namun sayangnya ketajaman nurani inilah yang semakin terkikis dari para elit dan pemimpin negeri ini, akhirnya hidup kita hanya bergerak dari suatu kebigungan ke kebingungan yang lain. Dan masalah tetap masalah, dan korban masalah itu tetap yang itu-itu juga, yaitu mereka yang lemah  dan tak berdaya serta termarginalkan.

 

Agar bangsa kita tidak tersesat secara kolektif, maka rakyat harus cerdas dan kritis dalam membedakan antara bungkus dan isi, antara aktor dan tokoh yang tampil jujur, antara senyum dan ucapan yang direkayasa dan senyum dan ucapan dari hati yang tulus, serta antara kata dan tindakan nyata. Hanya itu cara kita untuk dapat membendung arus besar kosmetika sosial dan make up politik yang akan menghanyutkan kita dengan mimpi-mimpi indah, sehingga tanpa sadar kita sudah semakin jauh bukan di depan tetapi di belakang.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: