Paul Tobing On Knowledge

Kita Lemah Dalam Pemanfaatan Pengetahuan

Posted on: September 2, 2008

Oleh : Paul L. Tobing 

Akhir-akhir ini sering muncul fenomena brain migration, yaitu suatu istilah berpindahnya orang-orang berpengatahuan (knowledge worker) dari tanah air ke luar negeri. Mereka memilih berkarya di negeri lain dengan berbagai alasan. Maurer dkk (2003) dalam sebuah tulisannya yang berjudul “retaining knowledge by retaining technical professional” menyatakan bahwa “the intellectual capital of knowledge worker is more mobile than the other competitive resource”. Artinya kesisteman organisasi perlu dibenahi untuk menahan mobilitas para knowledge worker ini.

 

Berbagai alasan dan motivasi pendorong brain migration ini, antara lain: iklim kerja yang lebih baik, sistem karir yang lebih transparan dan fair, sistem imbalan dan rekognisi yang adil dan lebih memadai, perlakuan yang lebih baik, kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan yang lebih baik.

 

Dalam pengelolaan pengetahuan (knowledge management) yang akhir-akhir ini makin banyak diterapkan dalam berbagai organisasi (profit dan non profit), ada bermacam variasi tentang proses-proses inti dalam pengelolaan pengetahuan. Namun pada kesempatan ini dipilih yang lebih sederhana, yaitu : pengakuisisian pengetahuan, penyebaran pengetahuan dan pemanfaatan pengetahuan.

 

Proses pengakuisisian pengetahuan adalah berbagai tindakan sistematis yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan suatu organisasi. Tindakan itu antara lain melalui pendidikan, pelatihan, studi banding, penelitian dan pengembangan dan belajar dan bereksperimen secara individu maupun secara kelompok. Hambatan utama dalam proses pengakuisisian pengetahuan ini adalah resitensi untuk berubah, dimana pengetahuan itu hanya sampai di tahap kognitif tetapi tidak sampai ke tahap merubah perilaku.

 

Proses penyebaran pengetahuan adalah berbagai tindakan untuk menyampaikan pengetahuan atau membuka akses kepada orang-orang yang membutuhkan terhadap pengetahuan, sehingga dapat dipelajari, dipahami dan dimanfaatkan oleh orang lain. Dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, distribusi pengetahuan tidak lagi mengalami hambatan yang signifikan secara geografis. Hambatan utama adalah bersifat personal, misalnya rendahnya kemampuan seseorang untuk mengeksplisitkan pengetahuannya. Kemampuan mengeksplisitkan itu dapat berupa kemampuan dan kemauan untuk mengomunikasikan pengetahuan secara lisan atau tulisan yang dapat disimpan dalam bentuk digital, sehingga dengan mudah dapat didistribusikan melalui infrastruktur internet.

 

Proses yang ketiga adalah proses pemanfaatan pengetahuan. Dalam proses ini terjadi translasi pengetahuan menjadi nilai sosial atau nilai komersial. Tanpa proses ini, maka pengetahuan hanya berfungsi sebagai atribut-atribut personal atau institusional yang tidak memberi manfaat yang optimal bagi diri, lembaga apalagi bangsanya.

 

Untuk konteks Indonesia, pemanfaatan pengetahuan ini menurut saya merupakan kelemahan yang utama. Sudah ribuan mahasiswa Indonesia belajar di dalam dan luar negeri baik biaya sendiri maupun dengan biaya pemerintah untuk mengakuisisi pengetahuan, tetapi banyak diantaranya memilih memanfaatkan pengetahuannya di luar negeri, sesudah mencoba bertahan di dalam negeri. Studi banding juga banyak dilakukan berbagai institusi di Indonesia, tetapi translasi pengetahuan itu tidak terasa.  Rendahnya pemanfaatan pengetahuan di Indonesia juga dapat dilihat dari banyaknya hasil penelitian di berbagai lembaga dan perguruan tinggi yang hanya menjadi tumpukan-tumpukan kertas, walau hasil penelitian itu sebagian sudah dipaparkan dan mendapatkan pujian di fora internasional.

 

Mengapa pemanfaatan pengetahuan di Indonesia mengalami hambatan yang laten? Mari kita memilahnya berdasarkan  pengklasifikasian hambatan pemanfaatan pengetahuan ini dalam tiga katagori yaitu : hambatan kultural, hambatan organisasional dan hambatan kepemimpinan (Probst dkk,2000). Hambatan kultural itu jika saya coba terjemahkan dalam konteks Indonesia adalah adanya hidden rules berupa inersia (yang tak dapat dilihat tetapi dapat dirasakan) yang memblok pengetahuan-pengetahuan yang tidak familier dengan suatu komunitas dalam sebuah organisasi. Mental not invented here termasuk di dalamnya, yaitu suatu mental yang tidak ingin menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari luar organisasi atau yang dibawa orang luar (yang digaji) ke dalam suatu organisasi. Resistensi ini antara lain diakibatkan ketakutan akan dampak penerapan pengetahuan itu yang dapat mengubah lingkungan organisasi.  Kemudian hambatan kultural berikutnya adalah job insecurity, dimana orang yang memanfaatkan pengetahuan biasanya justru berada dalam posisi rawan dalam arti menjadi sasaran kritik dan serangan pihak-pihak yang terganggu zona kenyamanannya. Selain itu, orang yang berusaha menerapkan pengetahuan baru biasanya dituntut bertanggung jawab secara individual jika gagal, dan jika berhasil maka serta merta keberhasilan ini akan diklaim oleh organisasi atau atasan yang bersangkutan.

 

Hambatan organisasional itu dapat  berupa lingkungan kerja yang tidak kondusif. Lingkungan yang tidak kondusif ini antara lain dapat terbentuk akibat praktek sistem karir yang tidak transparan dan sewenang-wenang (walaupun secara kebijakan formal terkesan sangat transparan dan adil), minimnya toleransi terhadap kegagalan penerapan pengetahuan baru, serta sistem imbalan dan rekognisi yang tidak fair. Faktor lain yang dapat kta klasifikasikan sebagai hambatan organisasional adalah kekakuan organisasi yang diakibatkan prosedur birokratis yang ketat dan sistem hirarkis yang eksesif.

 

Sedangkan hambatan kepemimpinan, adalah lemahnya jiwa wirausaha dari sebagian besar pejabat kita. Kemudian sebagian besar mereka masih berperilaku sebagai mandor yang menerapkan command and control yang cocok diterapkan untuk mengelola physical worker (buruh kasar) atau skill worker (tenaga terampil), walaupun pada kenyataannya para pegawainya sudah menjadi tenaga-tenaga terdidik dan terampil (knowledge worker). Tentu model kepemimpinan seperti ini akan membunuh kreatifitas dan penerapan pengetahuan baru pada tahap yang sangat prematur. Dan sistem kepemimpinan ini secara langsung akan membentuk para tenaga terdidik untuk mewarisi dan menerapkan kepemimpinan yang serupa jika suatu saat mereka menjadi atasan.

 

Melihat begitu banyaknya persoalan-persoalan yang masih dihadapi bangsa ini seperti diuraikan di atas, rasa frustasi mungkin akan menghantui kita. Apalagi jika  menyadari bahwa daya saing bangsa ini sangat tergantung kepada kemampuan pemimpinnya membenahi persoalan-persoalan tersebut. Benang kusut ini akan diurai dari mana ? Tentu kita hanya dapat mengadu kepada penguasa negeri ini yang sudah diberi mandat, untuk kiranya mempercepat reformasi birokrasi yang diyakini akan memberi efek ganda terhadap pengelolaan lembaga-lembaga lain di negeri ini termasuk perusahaan dan organisasi lainnya.

 

Selain itu pesan dari tulisan ini adalah, selain berusaha keras mengakuisisi pengetahuan (studi LN, riset, belajar mandiri dll), para pencari pengetahuan ini juga perlu memiliki awareness tentang hambatan-hambatan penerapan pengetahuan di Indonesia, sehingga disamping kesiapan otak, perlu juga dipersiapkan mental dan hati. Semoga bermanfaat.

4 Responses to "Kita Lemah Dalam Pemanfaatan Pengetahuan"

cukup menarik uraian pa paul, cuma diuraikan mengenai tahapan pemanfaatan pengetahuan, kemudian hambatan dalam pemanfaatan pengetahuan cukup menarik dan sangat realistis yang diuraikan disini.
hanya pertanyaan apakah dari jketiga hambatan yang terbesar tersebut tidak diuraikan solusi mengatasi ketiga hambatan tersebut diatas, apakah memang tidak dibahas dalam buku yang pa Paul baca, atau belum sempat dituliskan diratikel ini, atau belum dibaca ?
kayaknya kalau ada 3 hambatan besar + solusinya menjadi sangat cespleng atau memang belum ada resep jitu untuk mengatasi turn over==> knowledge worker.
Kayaknya memang karakter knowledge worker yang sangat dibutuhkan memang lebih suka berpetualang, pindah2 tempat kerja atau suka pada hal2 yang sangat menantang.
jadi yang dicari adalah pekerjaan yang sangat menantang untuk dapat diselesaikan atau dipecahkan dari pada gaji, lingkungan dan sebagainya dia tidak peduli mungkin bisa ditambahkan kriteria hambatan pemanfaatan pengetahuan yaitu :TANTANGAN.

salam
bambang setiarso

Benar pak Bambang memang belum ada solusinya. Memang betul tantangan, pekerjaan yg menantang, membuat kita lupa gaji bahkan lupa kelurga. Tetapi yg faktor berikut juga berpengaruh, organisasi belum secara serius melakukan identifikasi knowledge need (kalau di LIP mkn daftar kebutuhan riset), banyak yg melakukannya secara intuitif (bagaimana maunya bos).

Selain itu karakteristik job juga kadang berpengaruh. Apalagi kalau kita menerapkan manajemen one size fit all…karena tidak mau repot. Sehingga knwoledge dibroadcast ke semua level pekerjaan danlevel orang.
Dan lain-lain banyak lagi yg belum terdata.

Kadang2 di problem itu sendiri terletak solusi, just remove the barrier, it is the solution.
Salam

Tantangan pekerjaan merupakan faktor yang akan mendorong orang-orang yang merasa dirinya sebagai Knowledge worker ingin berpindah-pindah pekerjaan, selain itu kurangnya pengakuan atas pengetahuan yang dimiliki knowledge worker seringkali membuat mereka merasa tidak puas, oleh karenanya banyak diantara mereka tidak memanfaatkan pengetahuannya di dalam negeri tapi lebih memilih hengkang ke negri orang atau organisasi lain yang tidak pernah membesarkan mereka.
Oleh karena itu perlu dipikirkan khususnya oleh manajemen organisasi bagaimana memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki oleh para knowledge worker.
salam

Betul Bu Irma…sering seseorang yang sudah berpendidikan tinggi bahkan disekolahkan oleh institusi/perusahaan ybs, hanya diberi pekerjaan yg kurang menantang, kalaupun dia berupaya melakukan beyond her/his job description akan mendapat tantangan. sEdangkan solusinya butuh pemikiran yang mendalam, tetapi menurut saya yg terutama adalah kepemimpinan, karena faktor ini yang dapat relatif lebih mudah dalam mentransformasikan berbagai elemen di dalam organisasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: