Paul Tobing On Knowledge

Rapuhnya Modal Intelektual Kita

Posted on: July 22, 2008

Oleh Paul L. Tobing

 

Bangsa Indonesia sudah lama hidup dalam kondisi yang ironis, hidup miskin di bumi yang kaya raya, secara politik sudah demokratis tetapi secara ekonomi sangat kapitalis, kekuasaan sudah terdistribusi tetapi juga sekaligus diikuti distribusi korupsi. Mengapa negara ini tidak mampu mengolah kekayaan manusia, budaya dan alam yang begitu berlimpah menjadi sumber kesejahteraan dan kekayaan yang lebih permanen? Mungkin jawabannya dapat ditelusuri dengan memotret kondisi modal intelektual yang dimiliki negara ini..

 

Modal intelektual merupakan modal intangible yang tidak memiliki fisik yang dapat diraba seperti tanah, gedung atau pabrik, tetapi ia tak berwujud dan “hidup” dalam manusia, struktur, proses-proses, budaya atau dalam stakeholder sebuah organisasi.  Modal intelektual terdiri dari modal manusia, modal struktural dan modal pelanggan. Modal manusia menyangkut kompetensi, integritas, kreatifitas, kapabilitas, kepemimpinan, kewirausahaan dan keterampilan managerial serta pengetahuan tasit (tacit knowledge) yang dimiliki personil organisasi. Modal struktural merupakan kemampuan organisasi dalam merespon berbagai persoalan yang bisa  berupa teknologi, metodologi, pengetahuan eksplisit dan proses. Modal pelanggan menyangkut relasi, umpan balik, masukan terhadap produk/kebijakan, pengalaman dan pengetahuan yang bersifat tasit dari konstituen/pelanggan suatu organisasi.

 

Dalam konteks sebuah negara, maka modal manusia itu menyangkut kualitas manusia berupa tingkat pendidikan, attitude, integritas, kompetensi, kreatifitas, kewirausahaan dan pengetahuan masyarakat suatu negara. Sedangkan modal struktural menyangkut ideologi, budaya, sistem-sistem (birokrasi/politik/ekonomi) dan nilai-nilai konstruktif yang dijalankan masyarakat dan pemerintah, yang memampukan suatu negara menjawab berbagai tantangan dan perubahan. Terakhir, modal pelanggan mencakup kemampuan negara dalam melayani warganya dan stakeholder nya,  dan keterbukaan negara dalam menerima dan menindaklanjuti umpan balik/kritik dari rakyatnya sendiri atau pihak lain.

 

Meneropong kondisi Indonesia melalui lensa modal intelektual menghasilkan suatu pemandangan yang menyedihkan. Berdasarkan laporan Human Development Index yang dirilis UNDP pada tahun 2006, Indonesia masih di bawah Filipina, Malaysia, dan Thailand, dan hanya lebih baik dari Vietnam. Penyebab utama rendahnya mutu modal manusia Indonesia utamanya dapat kita arahkan kepada sistem pendidikan Indonesia. Sistem pendidikan yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan modal manusia, sangat miskin visi dan lemah konsep. Para penentu kebijakan pendidikan di negara  ini selama puluhan tahun masih dalam proses mencari arah dan visi pendidikan dengan cara yang terkesan try and error.

 

Sistem pendidikan saat ini semakin mempersempit akses kepada institusi pendidikan bermutu bagi kelas menengah apalagi untuk orang-orang miskin. Biaya pendidikan yang semakin tinggi, memberi kesan bahwa banyak sekolah tidak lagi memiliki beban untuk membentuk manusia, tetapi hanya sekedar mencari keuntungan. Melihat ketatnya persaingan sekolah dan perguruan tinggi, membuktikan bahwa perdagangan pendidikan itu sudah menjadi realitas.

 

Sistem birokrasi sebagai salah satu modal struktural telah gagal direformasi, bahkan bisa dikatakan sudah menjadi penghambat utama bagi reformasi bidang lain. Birokrasi masih lebih terasa sebagai beban bagi masyarakat dalam menjalankan kehidupan atau usahanya. Birokrasi kita masih diduduki oleh pejabat penguasa, bukan pemimpin yang melayani masyarakat. Tentu, kultur birokrasi yang demikian adalah lahan yang subur bagi tumbuhnya korupsi.

 

Sistem politik sebagai bagian dari modal struktural negara ini juga telah gagal menjalankan fungsinya sebagai leader machine. Sampai saat ini, pemimpin yang ditawarkan oleh berbagai partai politik masih berupa hasil daur ulang tokoh-tokoh lama. Pada tahun 2009 rakyat diperkirakan akan dipaksa memilih yang terbaik dari “mantan-mantan atau incumbent” presiden yang kinerjanya sudah terbukti tidak memenuhi ekspektasi sebagian besar rakyat. Negara ini potensial mengalami krisis yang lebih parah, karena berbagai sistem yang ada telah gagal melahirkan pemimpin-pemimpin baru.

 

Posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang bertengger dalam jajaran negara-negara pembajak terbesar di dunia, menunjukkan bahwa upaya perlindungan atas Hak Kekayaan Intelektual di negara ini masih jauh dari serius. DVD dan perangkat lunak bajakan masih dijajakan tanpa rasa malu bukan hanya di kaki lima tetapi juga di mall-mall. Semua penegak hukum seperti tutup mata terhadap kondisi ini. Akibatnya negeri ini bukan tempat yang ramah bagi lahir dan berkembangnya orang-orang kreatif dan penemu, pada hal kreatifitas, inovasi dan penemuan-penemuan baru merupakan faktor penting bagi keunggulan suatu perusahaan bahkan bangsa.

 

Dan yang lebih menyedihkan lagi kekayaan-kekayaan intelektual yang sudah menjadi bagian dari tradisi bangsa ini juga luput dari perlindungan hukum. Menteri terkait terkesan menunggu dan reaktif jika terjadi kasus-kasus “perampasan” hak cipta oleh negara atau pihak lain, seperti “klaim” Malaysia akhir-akhir ini terhadap lagu rakyat Indonesia, batik dan alat musik angklung.

 

Modal struktural lain yang mulai luntur, adalah sitem nilai dan ideologi kita. Para pemimpin sering lupa merenungkan dan merevitalisasi nilai-nilai yang diwariskan founding father kita. Nilai-nilai Pancasila, Sumpah Pemuda, nasionalisme, sifat kegotongroyongan, pola hidup sederhana dan pengorbanan yang diwariskan pendahulu kita, sudah jarang disinggung. Para pemimpin sepertinya kurang percaya diri membicarakan hal itu, karena mungkin sudah tidak sanggup mengartikulasikan nilai-nilai itu dan sudah gagal menjadi model melalui tindakan dan sikapnya.

 

Bagaimana dengan modal pelanggan negara ini? Birokrasi adalah alat utama negara dalam melayani masyarakat sebagai pelanggannya. Masalah utama adalah terminologi pelanggan dan pelayanan belum dikenal dalam sistem birokrasi Indonesia. Posisi masyarakat di depan sistem birokrasi adalah pemohon bukan pihak yang berhak mendapat pelayanan terbaik. Hal ini mengakibatkan kualitas pelayanan birokrasi negara ini sangat mengecewakan. Sebagai contoh, calon investor sering mengeluh tentang prosedur perijinan yang membutuhkan lobi berbiaya tinggi. Sering terjadi, investor asing dipaksa memiliki “mitra lokal” untuk mengurus ijin, mulai dari ijin tingkat nasional, tingkat propinsi, tingkat kabupaten, sampai kepada ijin preman setempat.

 

Kondisi elemen-elemen modal intelektual yang begitu memprihatinkan, telah membuat bangsa ini kehilangan efektifitasnya dalam mengelola kekayaan manusia, budaya dan kekayaan alam nusantara ini. Karena yang dapat mengonversi berbagai jenis kekayaan  itu adalah modal intelektual. Semakin rendah modal intelektual yang dimiliki, semakin rendah kemampuan suatu bangsa dalam mengelola berbagai jenis kekayaannya, sebagai akibatnya, semakin kecil pula nilai tambah yang diperoleh.  Bahkan sering, pengelolaan berbagai kekayaan bangsa ini yang hanya bermodalkan semangat  eksploitatif yang miskin modal intelektual potensial menimbulkan bencana.

 

Kalau sekiranya disuruh memilih, komponen modal intelektual mana yang lebih dulu dibenahi? Modal manusia mungkin merupakan jawaban yang kita sepakati sebagai titik awal untuk membenahi benang kusut ini.  Karena komponen inilah yang paling  potensial untuk memperbaiki modal struktural dan modal pelanggan. Untuk itu, pembenahan sistem pendidikan kita menjadi hal yang mutlak. Alokasi 20% dari APBN untuk pendidikan mungkin dapat kita tuntut. Namun tanpa integritas dan visi yang kuat dari para pengelola pendidikan, maka penggunaan alokasi 20% dari APBN itu sebagian besar akan salah sasaran. Modal manusia pengelolanya harus dibenahi dulu, agar dana yang 1/5 dari belanja negara ini tidak sia-sia.

 

Paul L. Tobing. Anggota pendiri Knowledge Management Society Indonesia (KMSI) dan  Penulis buku : Knowledge Management : Konsep, Arsitektur dan Implementasi (2007).

1 Response to "Rapuhnya Modal Intelektual Kita"

bung,
tulisan anda bagus… berbobot dan … tajam…
pelihara terus kegelisahan anda thd negara ini.
berjuang terus…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: