Paul Tobing On Knowledge

DAOED JOESOEF

22 Juni 2016

Penjajahan selama 350 tahun oleh Belanda plus 3,5 tahun oleh Jepang ternyata sangat membekas buruk dalam benak rata-rata orang Indonesia.

Setelah lebih dari 70 tahun merdeka, jangankan rakyat biasa, di kalangan tokoh pemimpin bahkan masih kelihatan rasa minder pada segala sesuatu yang “asing”. Yang memprihatinkan adalah ide bahwa pendidikan universiter sebaiknya dipimpin rektor asing supaya pendidikan tinggi Indonesia mampu bersaing di kelas dunia. Dulu kita dikejutkan oleh niat pemerintah mendirikan “sekolah menengah internasional”, kini lahir ide tak kalah aneh mengenai sanjungan pada “rektor asing”.

Orang asing yang menawarkan diri berkarya di negeri terbelakang, seperti Indonesia, karena dia tidak laku di negerinya sendiri. Kalau dia memang ahli di bidangnya, dia akan dipekerjakan oleh pemerintah atau masyarakatnya sendiri. Kalau ada orang asing yang kelihatan “mampu” menduduki suatu jabatan internasional, sekarang ini bukan lagi berdasarkan kapasitas kinerja dan reputasi akademis pribadi, tetapi lebih banyak karena backing negaranya yang terkenal adikuasa dalam percaturan politik dan ekonomi antarbangsa. Jadi, kemampuan bersaing adalah fungsi dari banyak faktor. Hal ini juga berlaku, lebih-lebih, di sektor swasta. Setelah kontraknya habis dan pulang kembali ke negeri asalnya, dia baru menjadi “tenaga ahli”. Sebelumnya di sini dia hanya latihan untuk berkeahlian.

Ide persaingan itu sendiri dikembangkan dalam term “globalisasi” oleh bangsa- bangsa maju dalam teknologi. Globalisasi berasumsi rakyat dari semua bangsa berpartisipasi secara proaktif dalam progres dari teknologi baru dan berdasarkan kelebihan teknologisnya berhak mengeksploitasi sumber-sumber alam di mana pun. Jadi, kita sudah diindoktrinasi mengakui kebenaran satu ide ultra-liberal, yaitu mereka bebas bersaing dengan kita dalam memanfaatkan kekayaan Ibu Pertiwi.

Adapun julukan “kelas dunia” dari pendidikan tinggi sudah ada ukuran esensialnya, yaitu kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kobaran semangat ilmiah di kalangan para mahasiswanya. Dengan kata lain, universitas/institut dipuji karena ia berhasil jadi pusat unggulan (centre of excellence) dari ilmu pengetahuan dan anaknya, teknologi.

Genealogi ilmu pengetahuan

Harus diakui, pendidikan tinggi Indonesia belum berhasil mengembangkan mahasiswa yang terbaik dan yang terbaik dalam diri anak didiknya dalam penguasaan ilmu pengetahuan, apalagi penghayatan semangat ilmiah. Kenyataan pahit ini disebabkan pemahaman keliru dari para dosen tentang pengertian yang korek dari ilmu pengetahuan, bukan oleh ketidakadaan rektor asing. Ilmu pengetahuan bukanlah sembarang pengetahuan, melainkan pengetahuan yang terbentuk dalam proses pembelajaran ilmiah, pengetahuan yang dibesarkan dan dipupuk oleh integritas dan nilai serta semangat ilmiah.

Apabila bertepuk membutuhkan dua telapak tangan, keberadaan ilmu pengetahuan memerlukan paling sedikit dua pemikir. Ia tampil hanya dalam konteks komunikasi antara individu yang menulis dan individu yang membaca, antara orang yang memakai idiom keterpelajaran dalam mencatat observasinya dan orang yang menganggap catatan-catatan tersebut cukup menarik. Ilmu pengetahuan modern memang diakui sebagai bentuk kontemporer yang dominan daricommunicable knowledge. Komunikasi yang sedang berlaku dari pengetahuan ini merupakan suatu tradisi akademis yang biasa stagnan, keliru, maju atau sangat maju.

Kemajuan ini meniscayakan adanya satu cara pembelajaran yang khas karena tidak terjadi begitu saja tanpa disengaja. Ia tidak bagai nova menyendiri di langit, kata Prof Shigeru Nakayama, yang muncul dan kemudian tiba-tiba menghilang menurut sekehendaknya.

Perkembangan genealogis ilmu pengetahuan dapat digambarkan sebagai lapisan- lapisan fakta dan kejadian. Inti dari lapisan ini berupa pembentukan teori ilmiah. Ia tampil sebagai tabel-tabel kronologis dan catatan-catatan tentang invensi dan penemuan. Inti awal ini langsung dilapisi oleh dunia pemikiran dan kegiatan riset dari mana lahir teori-teori tadi. Di luar “sejarah intelektual dari ilmu pengetahuan” ini terdapat lapisan ketiga berupa lingkungan profesional dan vokasional di mana ilmuwan melaksanakan panggilan hidupnya sehari-hari; kelompok riset dan kluster tempat dia bergabung, asosiasi akademis di mana dia tergolong, universitas/institut dengan mana dia berasosiasi. Lapisan ini bisa disebut infrastruktur akademis. Akhirnya ada lapisan terluar, yang tak lain adalah masyarakat luas.

Lapisan-lapisan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmuwan perlu dikemukakan di sini agar kita mengetahui kelalaian kita dalam membangun sistem pembelajaran ilmu pengetahuan selama ini. Kita cenderung menganggap ada hubungan langsung antara perkembangan teori yang diwakili oleh inti genealogi keilmuan dengan masyarakat luas dan mengabaikan unsur-unsur antaranya. Dengan demikian kita tidak menyadari bahwa pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan tidak dapat diwujudkan kecuali ada usaha-usaha khas yang relevan dan serius untuk “menghidupkan” unsur-unsur tadi, lebih-lebih yang disebut infrastruktur akademis.

Keseluruhan unsur tersebut adalah “komunitas ilmiah”, yang eksistensinya merupakan basis sosial determinatif baik bagi penggeloraan semangat ilmiah di kalangan sivitas akademis kampus ataupun bagi pemahaman yang benar dari masyarakat luas pengguna ilmu pengetahuan tentang makna sejati dari kampus.

Genealogi ilmu pengetahuan, berdasarkan natur dari subject mattersyang dikajinya, menanggapi pengetahuan ilmiah sebagai suatu “gejala sosial”. Capaian intelektual khas ini bukan produk suatu masyarakat khas, tetapi dari suatu cara pembelajaran khas, yaitu membuat pengetahuan selaku komunikasi, merupakan medium sosial di mana pengetahuan ini dipolakan, melalui mana ia dikembangkan, dan dengan mana ia ditransmisikan di kalangan orang-orang yang sama-sama terlibat dalam penyelidikan yang serius.

Komunitas ilmiah

Setiap komunitas nasional terdiri atas berbagai subkomunitas: ilmiah, politik, bisnis, religius, artistik, komunikasi, dan lain-lain. Semua subkomunitas itu bukanlah berupa ruang hidup yang konkret, melainkan substansi yang abstrak dan metafisis ala wacana sosiologis Durkhemian. Meski demikian, sejarah peradaban dunia membuktikan bahwa kehadiran komunitas ilmiah ternyata sangat menentukan progres kehidupan human karena ia adalahmindset yang menentukan jenis sikap manusia. Jadi ia yang paling menentukan manusia menjadi lebih layak (to be more). Maka, bila segala sesuatu berawal dalam pikiran, di dalam pikiran itulah harus dibangun unsur-unsur progres yang diniscayakan bagi human survival.

Justru komunitas ilmiah ini yang relatif terlemah di antara komunitas lainnya, terombang-ambing jadi permainan komunitas politik dan komunitas bisnis, tereduksi hanya menjadi pemberi gelar Dr HC. Keadaan ini harus distop. Pendidikan tinggi terpanggil untuk membangun dan mengembangkan komunitas ilmiah karena ia adalah habitat yang diniscayakan oleh kehidupan keilmuan.

Tugas akademis ini jelas tidak gampang. Ia memerlukan serangkaian organisasi yang relevan: ikatan kesarjanaan, lembaga riset, perpustakaan umum, kegemaran membaca, pembawaan kritis, dan lain-lain. Bila rangkaian organisasi itu terlaksana sesuai yang diharapkan, ilmu pengetahuan tampil berupa pengorganisasian pengetahuan yang lebih mampu menguasai potensi yang tersembunyi dalam alam. Pengertian ilmiah dari ilmu pengetahuan ini sekaligus teoretis dan praktis, tidak membuat garis tebal pemisah antara pengetahuan ilmiah dan penggunaannya, antara lain murni dan ilmu terapan. Definisi tersebut mencakup mulai kinetic theory of gases dan telepon seluler hingga jalan layang dan jembatan gantung serta pasta gigi yang mengandung obat.

Integritas ilmiah

Bersamaan upaya pendidikan tinggi tersebut di atas, sivitas akademis diniscayakan menghayati integritas ilmiah. Pertama, membiasakan diri menilai karya ilmiah sesama dosen/ilmuwan berdasarkanpreestablished impersonal criteria.

Kedua, pengetahuan ilmiah terbuka untuk umum, dimasyarakatkan.

Ketiga, ilmuwan melaksanakan tugas khusus warga andalan dari negara-bangsa di mana dia tergolong.

Keempat, ilmuwan yang juga berkarya di bidang pendidikan perlu bertemu secara berkala, lebih-lebih di antara rekan dari disiplin ilmiah yang berbeda, bertukar pikiran.

Kelima, memenuhi tugas ilmuwan selaku warga negara andalan, yaitu menilai ilmu yang ditekuninya dengan asas-asas Pancasila. Ilmu pengetahuan memang tidak bebas nilai. There is no such thing as a “value-free science”, walaupun tugas utama ilmu pengetahuan tetap menemukan explanatory truth, bisa diulang oleh orang lain di tempat lain selama dalam kondisi yang sama.

Kehidupan kita memang berada di tengah-tengah arus perubahan. Namun, perubahan ini tidak boleh menyilaukan kita hingga kehilangan martabat. We may lose every thing but our honour. Dan, usul menyerahkan pimpinan pendidikan tinggi kepada “rektor asing” telah melecehkan martabat ini. Jangan main-main dengan pendidikan sebab ia yang paling menentukan masa depan Indonesia. Para rektor Indonesia, bangkitlah! Anda sudah dilecehkan oleh penguasa Anda sendiri. Ketahuilah bahwa di masa penjajahan Belanda dulu, Willem Iskander, Moh Syafei, dan Ki Hajar Dewantara sudah berani dan mampu membangun sistem pendidikan nasional berhadapan dengan sistem pendidikan kolonial yang berlaku.
DAOED JOESOEF
ALUMNUS UNIVERSITÉ PLURIDISCIPLINAIRES PANTHÉON-SORBONNE

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Juni 2016, di halaman 6 dengan judul “Jangan Permainkan Pendidikan”.

Sejak lama saya mengatakan, dan kini mungkin jadi pengetahuan (baca: permisivitas) umum: mayoritas mainan anak-anak Indonesia, bahkan di usia awal pengembangan pendidikannya, 3-6 tahun, bukan lagi dalam bentuk tradisional (tak lari, petak umpet, engklek, congklak, dan sebagainya), yang bisa dikatakan lenyap dalam peradaban modern kita. Setelah era “gimbot” (game watch) atau Tetris hingga 1980-an, kini anak-anak itu memiliki perangkat gawai (gadget) yang menciptakan atau mewujudkan bukan hanya semua jenis permainan tradisional dan modern dunia (dalam bentuk yang mengejutkan), melainkan keluasan ruang imajinasi tak terperi. Fenomena itu bukan saja mulai jadi keumuman hingga di tepi kota, melainkan juga desa-desa yang mulai meng-“kota”. Apa yang mengesankan, sebenarnya menggiriskan, permisivitas dan aksesibilitas anak-anak pada tab kian meninggi seiring merendahnya status atau kelas sosial, ekonomi, politik di mana keluarga sang anak berada. Artinya, apa yang sudah mulai Anda bayangkan sebagai dampak (negatif, destruktif) pada generasi awal bangsa ini justru terjadi makin kuat dan masif di kalangan menengah dan terutama kalangan bawah. Kesadaran yang terkondisi Begitukah? Tidak perlu terlalu sinikal. Ini memang baru fenomena. Tapi, kita tahu, gejala yang terjadi tanpa kita lihat dan sadari dengan baik, dalam waktu singkat ia menjadi sesuatu yang “terterima” (taken for granted) dan seiring jumlah waktu yang terus bergerak ia kemudian menjadi nasib atau hal yang secara sosiologis disebut given. Bukankah begitu? Para orangtua yang sudah pasrah, tidak mampu, atau bingung, bahkan sebagian menerima kehadiran gawai-cerdas itu bukan hanya sebuah norma atau hal yang normal, melainkan juga sebagai bagian zaman yang tak terhindarkan. Lebih jauh lagi, sebagian kecil bahkan menjadikannya simbol dari kemodernan atau tingkat keadaban seseorang. Apa yang kemudian terjadi? Pada tingkat pribadi, misalnya, saya masih belum mengerti bagaimana ada anak umur 10 tahun menukarkan uang asing yang ia curi dari laci orangtuanya hanya untuk main games di warnet selama seminggu, sementara untuk mendapatkan tempat penukaran uang terdekat, ia harus pergi hampir 20 kilometer dari kawasan rumah/warnetnya. Atau, jangan kaget jika sekali waktu di history desktop Anda terdapat beberapa situs porno dewasa di antara puluhan situs Manga, kartun Hongkong, Disney, dan sebagainya, yang patut diduga hal itu dilakukan anak Anda. Apa yang telah terjadi itu secara otomatis membentuk ruang imaji anak, dan kemudian memberi pengaruh pada cara berpikir, merasa, atau bertindaknya di kehidupan sosial. Apa yang disadari oleh mereka, para wakil pendidik atau transmitor nilai dalam kehidupan sosial dan spiritual kita (pemimpin informal/adat, guru/pemuka agama, dan sebagainya) ketika mereka masih dengan begitu percaya mengajarkan hal-hal yang bukan saja tradisional, klasik, bahkan arkaik-tak hanya dalam makna, simbolisasi hingga ekspresinya-pada anak didik mereka yang ruang imajinernya sudah diisi dengan padat, intens dan masif oleh data dari sebuah tablet/ipad? Pada tingkat sosial yang masif, anak-anak (remaja) tadi bisa saja berbentuk tubuh dengan realitas biologis lebih dewasa, bahkan puluhan tahun di atasnya. Para remaja itu mungkin memiliki kematangan faali, tetapi pikiran dan imajinasinya di tingkat dependensi, keterikatan acuan, hingga penciptaan obsesi yang tinggi pada dunia virtual serta ilusif yang dihadirkan lewat perangkat gawai. Jika kemudian muncul remaja dengan senapan api membunuh 14 teman sekolahnya; anak 13 tahun di Surabaya diperkosa 13 anak seusia bahkan 4 tahun lebih muda; bayi usia dua tahun diperkosa lalu dibunuh; seorang ibu melempar anaknya dari ketinggian mal di Bekasi, dan sederet peristiwa semacam itu terjadi di negeri ini, negeri tetangga, negeri-negeri seluruh dunia? Tak terbayangkan, dunia macam apa dalam sejarah (peradaban) umat manusia. Lalu, mengapa pikiran kita begitu cupet dan pendeknya: kebiri saja pelakunya! Termasuk anak 9 tahun yang terlibat dalam pemerkosaan di Surabaya di atas! Siapa yang gila sebenarnya? Dengan apalagi akal sehat kita, jika satu bangsa ini mengenal dengan baik kata majemuk kuno itu, “akal sehat”, harus diberi penjelasan dan argumen: dalam zaman mutakhir saat ini sesungguhnya kita bersama adalah korban. Sekali lagi, korban! Kalau Anda dengan cara berpikir yang optimistis, progresif, positivistik serta materialistik masih memiliki semacam alasan, bahkan keyakinan bahwa kita adalah juga aktor, pelaku bahkan (turut) membentuk zaman mutakhir itu-katakanlah dengan menjadi programer, pembuat animasi untuk film terakhir Dreamworks, pebisnis start up, hingga pelaku media daring atau perekayasa perangkat kerasnya-renungkanlah dengan sebaiknya: apa sebenarnya peran yang sungguh-sungguh telah Anda mainkan? Kita pun korban Baik, mari kita membuka mata. Bukan mata fisik yang terbatas dan mulai lamur dan silau oleh cahaya peradaban yang kian menusuk. Tapi, dengan “mata” lain, baik di pikiran, hati, maupun batin. Dapatkah kita menyadari, hampir 100 persen dari cara hidup kita saat ini sesungguhnya tidak (pernah) kita tentukan sendiri. Bahkan, sebelum kita menyadari, memasuki ruang pendidikan anak usia dini (PAUD) saja para orangtua kita membuat pilihan yang opsi-opsinya sudah disediakan. Jangankan untuk konten atau metode pendidikannya, bahkan dari tagline alias jargon, mimpi, hingga harga yang ditawarkan. Biaya masuk PAUD saat ini banyak yang lebih mahal daripada masuk perguruan tinggi. Tapi kenapa tidak ada yayasan atau pemerintah yang menawarkan beasiswa untuk taman bermain atau PAUD? Apa sesungguhnya arti dari semua jelujuran fakta, yang notabene belum komprehensif untuk menggambarkan keseluruhan persoalan kita saat ini? Anda sudah dapat menduga, walau mungkin agak kabur. Sejak usia dini, anak-anak bangsa ini yang akan mengambil oper tongkat republik ini sesungguhnya sudah dikondisikan untuk menerima dengan baik kenyataan-kenyataan mutakhir yang pahit dan mengenaskan yang kita lihat, baca, dan rasakan belakangan ini. Lalu, dengan menggunakan logika tradisional paling awam, melihat sebab dari sebuah peristiwa degil itu lalu dengan enteng kita menyatakan, “terjadi dekadensi moral”; “kebejatan tidak beragama”; “pendidikan yang tidak tepat”; “pelaku yang telengas”; dan seterusnya. Lalu, dengan logika yuridis dan polisional kuno itu kita pun menangkap pelaku dan menumpahkan semua kesalahan kepadanya. Memenjara lama, mengancam hukuman mati, bahkan hendak membunuh kapasitas seksualnya (yang ilahiah itu) alias dikebiri. Padahal, kita tahu, para pelaku itu sesungguhnya secara esensial juga korban yang sama akutnya. Bukan hanya mereka, melainkan juga kita: orangtua, pemuka, guru, jaksa, polisi, dan seterusnya. Jangan-jangan kita pun sebagai korban juga pernah melakukan satu tindak destruktif atau kriminal karena dorongan yang tidak dikenali dan ia berlangsung begitu saja? Lalu apa dan siapa yang mestinya dikebiri? Jawaban dari pertanyaan itu sebenarnya Anda sudah tahu. Retorika semacam inilah yang antara lain membuat buntu akal sehat yang saya sitir di atas. Ketika kita tahu atau sadar menjadi bagian dari sebuah penyimpangan (bias/deviasi) hingga tindak yang anormatif, kriminal hingga biadab, kita tidak memiliki kekuatan bahkan kapasitas intelektual hingga spiritual hanya untuk menegaskan, “aku turut bersalah”. Yang utama: hidup Dengan semua alasan di atas, kita mendapat imperasi untuk berhenti menjadikan negara dan bangsa ini sebagai panggung teater dari kebodohan di atas. Dungu boleh, tapi jangan satu bangsa, apalagi pemerintahnya. Itu kesialan paling utama sebuah negara, pemerintah dungu, tapi selalu sok tahu. Sok menganggap dirinya paling tahu, pemberi solusi terbaik, dengan menggunakan hukum murahan untuk merepresi orang (rakyat)-bahkan secara koersif-agar menuruti atau meyakini peran (dungu) pemerintah itu. Negara adalah penanggung jawab dan mesti paham ini semua. Paham bagaimana ini semua terjadi dan berproses dalam sejarah bangsa ini. Tapi mereka buta. Mata mereka tidak bekerja karena sudah terhijab, sudah dilamurkan oleh tujuan-tujuan sangat pragmatis, bahkan dengan taktik yang sangat oportunistis. Ini bukan sepak bola ala Mourinho atau Simeone, “tidak penting dengan cara, hasil adalah dewanya”. Dan, kehidupan-termasuk keindahan dan kebudayaan-pun lenyap di dalamnya. Negara tidak bisa berdiam diri. Tidak bisa! Mereka harus berbuat, mencoba menghentikan semua ini: dari akarnya, dari fondasi terdasarnya; dari buku sejarah misalnya, yang harus dirombak hampir total; dari kurikulum pandir, bahkan sejak PAUD. Terlebih gerakan heboh yang seolah heroistik hendak mem-PAUD-kan semua desa, men-daring-kan seluruh bangsa, menyadar-asuransikan seluruh elemen masyarakat. Tidak! Tak semua bentuk dan sifat kemajuan adalah sebuah kewajiban sosial, bahkan nasional, untuk diterapkan. Tak seluruh pencapaian teknologi adalah “hal yang tak terhindarkan”. Kita tahu, yang utama itu adalah hidup itu sendiri, yang memang harus kita perjuangkan bersama agar terus berlangsung, sebagaimana ia menjadi “amanah” kemanusiaan ilahiah itu. Di akhir kalimat itulah kuncinya: hidup semata untuk meng-ilahiah-kan manusia pada akhirnya, memanunggalkan jagat kecilnya dengan yang gede. Jadi, apa pun yang ada di sekitarnya, tak ada yang tak bisa ditawar, tak ada yang harus diterima atau ditolak habis-habisan. Kita punya mekanisme bahari yang superhebat untuk melakukan itu semua. Maka, apabila terjadi pembiaran sistemik dari kondisi mengenaskan bangsa kita hari ini, bahkan sejak anak-anak kita “melek budaya”, tidak lain kita tahu siapa yang harus bertanggung jawab, dan siapa pula yang harus dikebiri. RADHAR PANCADAHANA BUDAYAWAN
Versi cetak Opini ini terbit di harian Kompas edisi 23 Mei 2016, di hal 6 dengan judul “Apa atau Siapa yang Dikebiri”.

 

By: Paul Lumbantobing
Demonstration against “application” on Monday, March 14 and 22, 2016 erupted in Jakarta and quite took our attention. When I chatted with the taxi drivers I rode that day, he complained of the drastic decrease in his income, and he blamed the “application”. The intended “application” of course is a digital-based application for transportation services such as Uber, Gojek, Grab and others who have started crowding the roads, especially in Jakarta.
Currently, the field of technology and business information shows various terms such as information technology, information and communication technology, electronic technology and digital technology. Digital technology these days is increasingly being used even though the definition is not clear and agreed upon. Digital technology in this paper is the term used for a technology that synergizes the capabilities of technologies such as information, communications, networking, computing, big data and other smart devices that can execute processes with a high complexity quickly and flexibly.

It should be understood that the implementation of digital technology in daily life is disruptive. Disruptive here does not mean destructive, but to make an existing business model, the way we work, and the value chain model becomes irrelevant. The life cycle of new business model also did not last long, the product cycle is also getting shorter. There were products that were dead because of the penetration of digital technology. SMS killed by messenger (BB, WA, and others). Circuit Switch-based telephony (such as are still in use today) will be replaced by phone over data. People are now able to call by using messenger applications such as WA, Line, Skype, Gmail and others. Mail delivery business has long become irrelevant because of the emergence of email.

As well as being disruptive, smart and connectivity elements of digital technology changed the nature of formerly discrete products and services and seeps through the now wide range of products even industry boundaries and establish a set of products. This makes the product of Uber or Grab difficult to define, whether the taxi or intermediary services that connect people in need of transportation services to people who have a vehicle. Grab/Uber product already incorporates the capabilities of the vehicles, smartphone, telecommunications networks, GPS, big data technology and other smart devices that form a service with a more complete feature than discrete taxi services.

The development of this technology inevitably has forced traditional owners and management of companies to rethink their business models. So it is relevant when Philipp Gerbert and his colleagues described the phenomena created by digital technology with the phrase “Digital Storm” in their book published 15 years ago. Since the technological revolution of internet not only changes the business landscape but also causes turbulence that makes organizations or individuals who are not ready to be extinct by the storm.

So, the relevant question is not really a way to inhibit the penetration of this technology, but how to adopt, treat and regulate these technologies in order to provide more value in life.

Primary Objectives of Digital Technology

Digital technology has three main objectives. The first is to empower people and redistribute power that had been owned by a particular company/people. When using digital technology, then people will feel that they are getting empowered, entitled to vote, and individuals made very powerful. But on the other hand, this technology can also reduce or even eliminate the privileges that had been enjoyed by certain companies. Digital technology is distributing both opportunities and threats.

The second target is the inefficiency of conventional business model and technology. Digital technology has been successfully optimize idle personal assets. The nature of assets that can be physical and non-physical. The example of physical assets are idle vehicles and property. The examples of intangible are our idle time and energy. Consequently, digital-based transportation business does not need to buy a taxi or motorcycle, and no need to hire a driver and provide workshops. The lodging business like Airbnb, does not need to own a building and does not have to pay various types of hospitality personnel.

The latter, the targets of digital technology are ideas and thoughts. To take advantage of other people’s ideas came open innovation application that wants to use any ideas to solve the problems that are offered. Management of open innovation application does not need to have buildings and laboratories, and  does not need to hire researcher.

The solution for those who want to survive

Is the penetration of digital technology in everyday life can be inhibited? The short answer is no, the regulator can only slowing. It is irony, if in a country that uphold the sovereignty of people, the penetration of digital technologies that provide convenience to the public and open employment, is inhibited. Digital-based transportation, for example, provides employment and business opportunities for people who have an unutilized vehicle and idle time.

The solution must come from both parties: traditional companies who feel threatened and also from the government. Traditional taxi company will not be effective if just think to inhibit the penetration of digital-based transportation services. General Electric CEO Jeff Immelt declared that “every industrial company will become a software company”. The statement stressed that if company wants to stay competitive, especially manufacturing firm must create software-based innovation in order to adapt to the digital business environment. Zipcar a service that implements the shared-usage model that provides service that connect customer who need a car and people who have a car, potentially reducing the need for vehicle ownership. But this threat is positively responded by car manufacturers by entering the car sharing market, by creating innovative services such as RelayRides from GM, Drive Now (BMW) and Dash (Toyota).

To accelerate adaptation to digital business ecosystem, traditional company must adapt itself with the new business models, recruiting Gen Y who experts in information technology in the ranks of the executive, or the company may merge or acquire digital company that threats its existence.

The traditional companies’ failure to adapt to digital business ecosystems, can reduce their role in the industrial that had been theirs. They no longer kings in the industry, but it can only take part in one or two value chains in new business models. For example, the traditional taxi company only acts as a driver and car provider for digital-based transportation services that have widened the definition of transportation service such as Uber and Grab.

Expected solution from the government as a regulator is to publish new regulation that is adaptive, futuristic and conducive to the birth of local entrepreneurs. The regulation also applies not only for transportation sector but also for other industries to anticipate the nature of digital product that encompasses and integrates a variety of discrete products. This regulation is no longer concentrating the authority to regulators but began to distribute the power to the stakeholders in the digital business ecosystem including the community as a user and perpetrators. In addition, the government could be involved in the transition to new business models, such as transferring people who have worked in traditional business-to-digital business and facilitating local digital start-ups.

Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (2015-2019), telah membuat syarat yang didasarkan pada Pasal 29 UU Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang antara lain menekankan bahwa peserta seleksi memiliki ijazah Sarjana Hukum atau Sarjana lain yang memiliki keahlian dan pengalaman sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun dalam bidang hukum, ekonomi, keuangan, atau perbankan serta berumur sekurang-sekurangnya 40 tahun dan setinggi-tingginya 65 tahun pada proses pemilihan.

Dari persyaratan tesebut, Pansel KPK terkesan lebih menekankan pengalaman dan pengetahuan hukum para calon. Padahal ada ungkapan yang mengatakan bahwa pengalaman itu hanya relevan jika masalah yang dihadapi saat ini atau yang akan datang sama dalam berbagai hal dengan masa lalu. Siapa sih yang berpengalaman memberantas korupsi di negeri ini selain dari orang-orang yang memimpin KPK dan personil lembaga penegak hukum lainnya. Personil lembaga penegak hukum non KPK memang berpengalaman, tetapi sudah terbukti, bahwa mereka tidak bertindak luar biasa dalam memberangus kejahatan korupsi ini. Sehingga pengalaman ini kurang relevan jika diterapkan di KPK Jilid 4 ini. Bukankah ketidakmaksimalan lembaga hukum yang ada yang menjadi pendorong utama kelahiran KPK?

Ketidakmutlakan pengalaman juga tertuang dalam ungkapan today’s core competencies can become core rigidity of tomorrow. Artinya pengalaman dan pengetahuan dapat juga menjadi faktor yang menyandera seseorang. Dibatasinya figur baru dengan usia muda (yang masih fresh, yang relatif belum tercemari) membuat kita pesimis akan munculnya terobosan-terobosan baru dalam pemberantasan korupsi yang akan dihasilkan oleh Pansel Pimpinan KPK yang akan datang. Karena cara bertindak out of the box kemungkinan besar hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memang selama ini berasal dari luar kotak lembaga yang bergerak dalam pemberantasan korupsi itu sendiri, seperti Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, KPK bahkan aktivis anti Korupsi. Hal ini terbukti, KPK yang selama ini dipimpin oleh orang-orang yang bergerak dalam bidang hukum, hanya sibuk menangani kasus “yang layak dipertontonkan”, tetapi kurang signifikan dalam melakukan terobosan-terobosan baru dalam pemberantasan dan pencegahan korupsi.

Pimpinan KPK membutuhkan figur seperti Daud

Untuk pemimpin KPK yang dibutuhkan tidak sekadar manusia luar biasa, kompeten, pemberani, dan kepemimpinan, tetapi yang terutama calonnya harus memiliki kegeraman (semangat berperang) melihat kejahatan korupsi. Kegeraman inilah yang diharapkan menjadi sumber semangat, keberanian dan kreatifitas dalam memerangi korupsi.

Kalau kita membaca kisah Daud dan Goliat, kita akan diyakinkan bahwa Indonesia dan khususnya KPK membutuhkan figur Daud. Sifat Daud yang pertama adalah adanya rasa terpanggil yang dipenuhi ketulusan. Kedua, adanya keberanian bertindak walau dengan perangkat dan sistem yang kurang memadai. Ketiga, Daud tidak mau disandera atau dibebani oleh berbagai aturan, sistem dan perangkat aturan eksisting dalam menyelesaikan masalah. Keempat adalah adanya kegeraman yang bersifat positif untuk mengalahkan kejahatan yang dipersonifikasikan oleh Goliat (kegeraman inilah yang mendorong keberanian). Kelima adalah adanya kecerdasan dalam mengidentifikasi titik krusial yang harus “ditembak” yang dapat melumpuhkan lawan secara menyeluruh. Dan yang terakhir Daud masih muda dan belum berpengalaman perang. Usia muda dan kurangnya pengalaman Daud membuat dia relatif belum terikat dengan strategi dan cara perang yang mudah diantisipasi dan dimanfaatkan lawan.

Adakah figur seperti Daud di negeri ini? Saya yakin banyak, tetapi dia tersembunyi di balik berbagai berbagai lapisan tembok sosial, tidak memiliki tempat di panggung publik. Karena profilnya bukan profil yang diimpikan banyak orang: kaya, terhormat dan (kelihatan) saleh. Mungkin dia sedang menggembalakan usaha kecilnya yang sulit berkembang karena tidak tunduk kepada aturan formal dan tidak formal yang begitu banyak melilit jalannya bisnis di negeri ini. Dia mungkin adalah seorang PNS di berbagai departemen, yang karena keteguhan dan kesetiaannya untuk tidak korupsi, namanya tidak muncul di media. Mungkin dia sekarang sedang mengalami sanksi sosial dengan berbagai cap: tidak toleran, egois dan tidak bisa diajak kerja sama.

Namun demikian, asa kita tumpukan kepada Srikandi Pansel calon pimpinan KPK yang saat ini sedang bekerja.

Dalam suatu acara yang penulis ikuti di Solo, Jokowi  datang ke acara tersebut hanya untuk mengucapkan selamat datang kepada peserta dan memasarkan tempat-tempat yang menarik dikunjungi atau dibeli di Solo. Dengan fasih dia mengingatkan agar jangan sampai melewatkan tempat-tempat wisata, kuliner dan belanja di Solo. Ini merupakan kejadian langka, melihat seorang kepala daerah yang begitu peduli kepada rakyatnya.

Ditengah mayoritas kaum elit dan pejabat negara Indonesia yang suka memamerkan dan menuntut berbagai macam keistimewaan, kemunculan perilaku pemimpin seperti yang ditunjukkan oleh Dahlan Iskan (Meneg BUMN), Joko Widodo (Walikota Solo) dan mungkin pemimpin lain yang tidak terekam media, mambawa air segar di tengah gersang dan keringnya perilaku kepemimpinan di negeri ini.

Perilaku seperti itu merupakan sifat altruisme yang saat ini sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia, yang sangat haus akan empati dan keberpihakan dari para pemimpin. Rakyat tentu tidak butuh pidato-pidato yang bernuansa pro-rakyat, tetapi selesai pidato,  pemimpin dan rombongannya langsung pergi ke suatu tempat, dan ditengah kemacetan yang akut di jalan raya, sang pemimpin masih menuntut  perlakuan istimewa. Rakyat membutuhkan tindakan nyata seperti yang ditunjukkan Dahlan Iskan (DI) dan Joko Widodo (Jokowi).

Altruisme menurut Sarabia (2007) berkaitan dengan keinginan seseorang (pemimpin) untuk mengembangkan orang lain. Kepemimpinan altruistis diindakasikan dengan adanya kerelaan berkorban dan menanggalkan berbagai keistimewaan yang memang secara sah dimiliki seorang pemimpin. Obsesi pemimpin altruistis adalah bagaimana memajukan dan mengembangkan orang yang dipimpinya. Pemimpin jenis ini tidak sempat berpikir untuk mengakumulasi berbagai sumberdaya dan fasilitas untuk semakin meninggikan dirinya apalagi untuk mempertahankan kekuasaannya. Sehingga perilaku seperti ini sering aneh sekaligus menarik di mata publik, tetapi juga dapat dianggap mengganggu kenyamanan para pemimpin lain.

Orisinalitas sikap merupakan salah satu ciri kepemimpinan altruistis, mereka dapat merasa lepas mendemonstrasikan sikap-sikap altruistisnya. Karena memang sifat ini sudah menyatu dalam dirinya, sehingga tidak terkesan canggung karena memang bukan di buat-buat. Sehingga dia tidak perduli jika orang lain mempertanyakan motivasi dibalik berbagai tindakannya bahkan dia tidak begitu memikirkan dampak tindakannya terhadap atasannya atau pemimpin lain. 

Sebenarnya banyak sifat kepemimpinan altruistis ini di tanah air, tetapi kebetulan kurang mendapat sorotan media sehingga luput dari perhatian publik, karena mereka memang orang biasa bukan pejabat negara seperti DI dan Jokowi. Guru, dokter dan relawan lainnya yang secara sadar mengabdikan dirinya di berbagai daerah yang sulit dijangkau adalah contoh dari pemimpin altruistis.

Kemunculan pemimpin jenis ini di kalangan elit bangsa merupakan sesuatu yang perlu disambut dengan positif. Walaupun terasa nuansa politisnya sikap DI dan Jokowi sudah membangunkan dan (mudah-mudahan) menyadarkan pemimpin-pemimpin negeri ini bahwa rakyat sangat haus dengan pemimpin-pemimpin yang secara nyata menunjukkan keberpihakan yang tulus terhadap mereka.

Dampak lain dari sikap-sikap altruistis ini adalah munculnya keyakinan baru bahwa pakem-pakem yang berlaku selama ini dalam kepemimpinan politik dan bisnis, bukan sesuatu yang tabu untuk dilanggar apalagi kalau semua sikap itu dilakukan untuk kemajuan bersama. Sebagai contoh, ketika masih banyak direksi dan pejabat BUMN yang menuntut berbagai kemewahan dengan alasan untuk menjaga citra perusahaan, saya yakin sikap DI yang sangat bersahaja tidak menjatuhkan tetapi justru akan meningkatkan citra  BUMN di mata pelanggan dan masyarakat.

Meskipun menarik perhatian publik, pemimpin altruistis memiliki kelemahan, yaitu potensial terjebak atau terlarut dengan sikap keberpihakannya, sehingga dia lupa membawa dan mentransformasikan orang yang dipimpinnya menuju visi yang dimilikinya. Untuk mengatasi potensi kelemahan ini, sifat altruisme ini perlu dilengkapi dengan visi yang kuat dan kemampuan manajemen mikro yang memadai. Dengan demikian ada jaminan bahwa tahapan-tahapan menuju visi dapat dicapai by design dan terukur.

Kemudian dalam konteks kepemimpinan politik, mereka perlu mempertajam kemampuan lobi politiknya. Karena biasanya pemimpin altruistis memiliki sifat idealis, mereka perlu berkorban untuk memoderasi idealismenya agar bisa cocok dengan realitas sistem politik yang ada. Tentu semua hal ini dilakukan dengan memosisikan sistem politik hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan, sambil tetap menjaga kemurnian hati dan ketulusan visi mereka.

Ada segelintir orang yang mempertanyakan apa motivasi dibalik sikap-sikap yang tunjukkan DI dan Jokowi. Tetapi kita tidak sepatutnya terlalu cepat menuduh, terutama karena keduanya memang bukan baru kali ini menunjukkan sikap-sikap keberpihakan seperti itu dan kinerja organisasi yang mereka pimpin  juga terbukti memuaskan. Selain itu, karena pemimpin juga dibentuk oleh orang yang dipimpinnya, kita perlu menyambut dan memberi kesempatan berkembangnya jenis kepemimpinan seperti ini, sehingga semakin banyak pemimpin altruistis yang muncul ke permukaan.  (Paul Lumbantobing, Kandidat Doktor Ilmu Manajemen, FE UNPAD)

Para pembelajar ysh… Dengan senang hati saya beritakan bahwa buku kedua saya yang berjudul: Manajemen Knowledge Sharing Berbasis Komunitas, sudah terbit. Kalau buku pertama saya bersifat general, buku kedua ini khusus membahas Knowledge Sharing dan Community of Practice (CoP)/Komunitas Praktisi. Mulai dari konsep, dan bagaimana manajemennya. Buku ini merupakan pertama yang membahas CoP secara khusus dalam bahasa Indonesia, Dan saya melihat buku ini cocok dipakai sebagai salah satu referensi untuk membangun CoP di perusahaan atau lembaga dimana Bapak dan Ibu berkiprah. Adapun isi buku ini adalah sbb:

BAB I Pengantar Knowledge Management

BAB II Knowledge Sharing: Konsep, Manfaat dan Tantangan

BAB III Pembentukan Budaya Knowledge Sharing BAB

IV Knowledge Sharing Berbasis Komunitas Praktisi (CoP)

BAB V Manajemen Kolaborasi Berbasis Komunitas Praktisi

BAB VI Kepemimpinan dalam Komunitas Praktisi

BAB VII Knowledge Management dan Inovasi

Selain buku diatas, kami informasikan juga bahwa buku kami yang pertama: Knowledge Management: Konsep, Arsitektur dan Implementasi (Graha Ilmu, 2007), masih tersedia dengan harga Rp. 65.000,- (sudah termasuk ongkos kirim utk Jabodetabek-Jabar)

Kedua buku tersebut di atas dapat dipesan kepada knowledge.communities@gmail.com dengan harga setiap judul buku Rp. 65.000.- (sudah termasuk ongkos kirim untuk Jabodetabek-Jabar)  Atas perhatiannya kami ucapkan terima Kasih sebelumnya

Pengantar

Selama beberapa edisi di majalah INSPIRE ini, penulis sudah membahas tentang apa itu Community of Practice (CoP) atau yang kami terjemahkan sebagai komunitas para praktisi atau di berbagai perusahaan disebut dengan berbagai istilah, misalnya di ConocoPhilips disebut NoE (network of excellence) sedangkan Fluor yang menjadi objek studi kasus ini menamainya sebagai knowledge community atau komunitas pengetahuan. Penulis telah banyak membahas topik ini dalam berbagai edisi, mulai dari konsep knowledge management (KM), knowledge sharing sebagai salah satu proses utama dalam KM, dan lebih tajam lagi CoP sebagai salah satu media paling efektif dan paling kaya dalam berbagi pengetahuan.

 

CoP juga sudah dibedah sedemikian rupa mulai dari konsep, evolusi, manajemen dan kepemimpinan. Tibalah saatnya kita melihat bagaimana praktek CoP di berbagai perusahaan, dan pada kesempatan kali ini yang disajikan adalah studi kasus penerapan KM di Fluor sebuah perusahaan yang masuk dalam Fortune 500. Fluor memiliki kompleksitas bisnis yang tinggi dan memiliki strategi KM yang menurut saya sangat balance dan terintegrasi. Beberapa perusahaan yang menerapkan KM lebih fokus ke teknologi dan kondifikasi knowledge, yang lain mengambil sisi sebaliknya yaitu lebih fokus ke orang dan melakukan personalisasi knowledge. Fluor memadukan kedua ekstrem ini yaitu memadukan teknologi dan people sebagai pilar knowledge strateginya. Terintegrasi karena teknologi dan dan people (komunitas) sudah blended, people tidak dapat berjalan sendiri tanpa teknologi demikian juga sebaliknya.

Penulis sangat bersyukur dapat menghubungi langsung nara sumber di Fluor dan menyambut baik keinginanan penulis untuk menuliskan studi kasus ini. Tidak tanggung-tanggung, salah satu petinggi Fluor yaitu John McQuary Vice President, Knowledge, Management and Technology Strategies dari Fluor, membantu penulisan kasus ini dengan memberikan materi-materi yang dibutuhkan. Demikian juga Rob Koene Global Knowledge Manager yang merespon keinginan penulis dengan memberi penjelasan tentang terminology yang terasa asing bagi penulis.

Sekilas Fluor Corporation

Fluor Corporation adalah salah satu perusahaan rekayasa, pengadaan, konstruksi, pemeliharaan dan manajemen proyek terbesar di dunia. Selama abad yang lalu, Fluor, melalui anak perusahaan operasionalnya, telah menjadi pemimpin global terpercaya dalam memberikan jasa dan pengetahuan teknis yang luar biasa. Klien mengandalkan Fluor untuk memberikan solusi kelas dunia yang mengoptimalkan aset, meningkatkan posisi kompetitif, dan meningkatkan keberhasilan bisnis jangka panjang pelanggannya. Secara konsisten dinilai sebagai salah satu kontraktor teraman di dunia. Tujuan utama Fluor adalah untuk mengembangkan, melaksanakan dan memelihara proyek sesuai jadwal, sesuai anggaran dan dengan keunggulan.
Fluor berada pada posisi ke 114 dalam FORTUNE 500, mengeksekusi lebih dari 1.000 proyek setiap tahunnya, melayani lebih dari 600 klien di 60 negara yang berbeda. Fluor memiliki tenaga kerja global lebih dari 40.000 orang, dengan kantor di lebih dari 30 negara di 6 benua. Pada tahun 2008, Fluor berkomitmen kepada pemegang saham untuk secara konsisten menciptakan nilai dan memberikan pertumbuhan laba yang superior. Laba tumbuh untuk enam tahun berturut-turut, dan perusahaan memecahkan rekor untuk proyek baru dan backlog (proyek/order yang sudah menunggu untuk dikerjakan). Laba bersih maju 35 persen ke rekor U$ 720 juta atau U$ 3,93 per saham. Pendapatan adalah $ 22. 3 miliar, atau meningkat sebesar 34 persen. Proyek baru dan backlog, indikator utama dari kinerja keuangan masa depan, masing-masing naik 11 persen menjadi U$ 25.1 miliar dan 10 persen menjadi U$ 33. 2 miliar.

Kami memanfaatkan kekayaan intelektual perusahaan yang cukup besar dan mengungkit penghargaan yang sudah kami raih, memanfaatkan sistem KM untuk memecahkan masalah kompleks yang tidak bisa dilakukan perusahaan lain. Fluor secara unik mampu menyatukan kombinasi terbaik dari regional, industri dan keahlian teknis kami, serta manajemen proyek, keuangan, manajemen risiko, kesehatan, keselamatan dan kekuatan lingkungan dan bisnis untuk melayani kebutuhan klien kami

Pada saat ini lingkungan bisnis berubah dengan cepat, senjata kompetisi yang paling ampuh dari setiap perusahaan adalah orang yang memiliki ketrampilan dan dedikasi untuk bekerja keras untuk memastikan keberhasilannya. Di Fluor, kita diberkati dengan komunitas individu yang berprestasi yang datang bersama-sama untuk mencapai hal-hal yang tidak dapat dicapai orang lain. Setiap karyawan global kami membawa aset yang unik kedalam pekerjaannya dan secara kolektif menghasilkan pengetahuan yang lebih besar, keputusan yang lebih baik dan kualitas dan nilai yang premium

Alan Boeckmann, Chairman and CEO,  Letter to Shareholders

Fluor memiliki lima segmen operasi utama. Kelima segmen itu adalah: Oil & Gas, Industrial & Infrastruktur, Pemerintahan, Global Services dan Power. Proyek-proyek Fluor mencakup perancangan dan pembangunan fasilitas manufaktur, kilang, fasilitas farmasi, pembangkit listrik, serta infrastruktur telekomunikasi dan transportasi. Banyak proyek Fluor di dunia menjadi yang terbesar, paling terpencil, kompleks,  dan proyek-proyek dengan pemodalan yang menantang.
Lingkungan bisnis Fluor adalah global, mobile, siklikal, dan kolaboratif. Karyawan ditempatkan di berbagai lokasi di seluruh dunia, dan harus bekerja sama untuk pelaksanaan proyek yang tersebar. Kelangkaan tenaga kerja dan mobilitas adalah realitas di Fluor; menemukan pakar di seluruh dunia adalah penting untuk lingkungan bisnisnya. Selain itu, masalah umur tenaga kerja adalah suatu realitas, lingkungan bisnis yang kompetitif dan dinamis menuntut Fluor harus meretensi pengetahuan yang dimilikinya. Solusi bisnis dan produk berevolusi dengan lingkungan teknologis dan saintifik. Lingkungan bisnis juga memerlukan integrasi  dan kolaborasi supply chain, karena banyak dari proyek Fluor melibatkan berbagai pihak dalam eksekusi proyek.

Simak

Baca secara fonetik

Kamus – Lihat kamus yang lebih detail

Knowledge Strategy

Selama lebih dari dua puluh tahun, Fluor secara informal menggunakan strategi dan teknik knowledge management (KM) untuk meningkatkan kolaborasi dan untuk mengungkit pengetahuan kolektif. Pada tahun 1999, organisasi menerapkan upaya KM secara formal dengan mempromosikan visi dan strategi KM yang konsisten di seluruh organisasi. Mandat CEO adalah “mentransformasikan Fluor menjadi perusahaan jasa terkemuka berbasis pengetahuan.”
Pendekatan KM Fluor  sangat unik, yaitu memadukan pola pikir perusahaan dengan pola pikir global – suatu pendekatan yang tidak terlihat pada organisasi-organisasi lain. Setiap karyawan memiliki akses ke setiap komunitas, mengikuti proses penyebaran komunitas yang ketat, menyediakan pengukuran kinerja dan audit program komunitas, dan perilaku berbagi pengetahuan diintegrasikan ke dalam semua aspek operasional perusahaan.

Visi KM Fluor secara korporat adalah untuk memiliki satu solusi teknologi yang mencakup komunitas dengan konten yang terintegrasi, diskusi, dan profil karyawan untuk mempromosikan suatu pola pikir global. Objektif utama adalah memanfaatkan modal intelektual kolektif dari seluruh karyawan untuk mendukung implementasi strategi bisnis. Komunitas dirancang untuk memberikan solusi yang optimal kepada pelanggan dengan berbagi pengetahuan lintas batas geografis dan bisnis, menggunakan kemampuan search yang kuat, dan memungkinkan akses global. KM korporat juga ditujukan untuk meningkatkan keterampilan karyawan melalui tersedianya akses ke pengetahuan, materi pelatihan dan menghubungkan pekerja dengan keahlian yang dibutuhkan. Tujuan lain KM adalah melindungi kekayaan intelektual organisasi. Dimana  sistem KM Fluor memantau aktivitas download untuk melindungi kekayaan intelektual.

Saat ini, ada 46 komunitas pengetahuan yang sudah dibentuk Fluor. Fluor memiliki 24.000 anggota komunitas yang aktif dan tersebar secara global, dan lebih dari 3.500 subject matter expert (SME) di lebih dari 1.000 bidang subjek dalam komunitasnya. Seluruh staf profesional Fluor aktif dalam komunitas pengetahuan. Volume kegiatan komunitas sangat tinggi, ada lebih dari 10.000 pencarian setiap hari, ada 2.600 yang melihat atau men-download lampiran setiap hari dan 10.000 forum yang membaca setiap minggu.
Di Fluor, komunitas berkaitan dengan orang dan keyakinan ini dikomunikasikan terus menerus di seluruh organisasi. “Kami benar-benar menekankan bahwa komunitas adalah ruang di mana kita bekerja dan hidup,” kata John McQuary, Vice President KM dan Technology Strategy. Komunitas lebih dari sekedar tempat untuk menemukan pengetahuan, komunitas mendukung sistem dimana karyawan dapat membangun rasa memiliki dan memperkaya keterampilan dan karir karyawan.

… menyoroti banyak aspek unik dari kemampuan knowledge management Fluor dan bagaimana aspek-aspek tersebut melawan pemikiran KM yang bersifat tradisional.Ketika proses bisnis KM semakin matang, semakin banyak praktisi KM mengakui bahwa pendekatan yang digunakan oleh Fluor (dan oleh segelintir organisasi lainnya) mengarah ke peningkatan kinerja usaha yang berkelanjutan

Dikutip dari Inside Knowledge Magazine, Article by Jerry Ash, June 2007

Kotak di bawah ini menyoroti dua contoh tentang bagaimana KM mendukung pengembangan karyawan

 
Dari “Karyawan baru” menjadi “pakar”

Saya sudah mengenal Knowledge OnLine selama menjalani program orientasi karyawan baru, sehingga saya berpaling ke Knowledge OnLine ketika saya memiliki pertanyaan yang tak  terjawab.

 

Saya mendapatkan beberapa tanggapan berharga selain kesan-kesan berikut:
Saya menemukan bahwa pengalaman saya sebelumnya agak jarang dan hal itu bernilai signifikan bagi rekan-rekan Fluor saya di seluruh dunia!

Sekarang saya sudah menjadi Subject Matter Expert dalam komunitas yang menekuni bidang Sistem Pengendalian. Betapa besarnya hati saya karena dapat menjadi bagian dari yang berkontribusi di sebuah tim!

 

Knowledge OnLine Membuat Fluor berada di atas perusahaan lainnya. Selama tiga setengah bulanbergabung dengan Fluor – Knowledge OnLine menjadi keistimewaan yang luar biasa bagi saya

.
Baru-baru ini, saya merancang untuk pondasi tiang pancang horisontal. Saya ragu-ragu dengan apa yang saya lakukan, kemudian saya memposting pertanyaan mengenai proses perancangan pondasi tersebut, dan mendapat  tiga tanggapan dalam tempo dua puluh empat jam!

Hal itu sangat membantu saya dalam berbagai cara:
  – saya mendapat jawaban teknis untuk masalah dan akan menggunakannya untuk proyek-proyek masa depan
  – hal ini memberi saya rasa percaya diri dan keberanian untuk menggunakan Knowledge OnLine.
Sekarang saya menyadari mengapa anggota pada Asosiasi Insinyur Bangunan Southern California pernah memberi tahu saya bahwa, ” Fluor telah memiliki sejarah dalam mengembangkan para insinyurnya, sedangkan perusahaan lain kebanyakan tidak memilikinya.”

 

 

Pasar bisnis global yang kompetitif telah mendorong Fluor untuk berbagi pengetahuan dan berkolaborasi melintasi batas-batas organisasi dan geografis. Fluor sering memiliki beberapa kantor yang berbeda bekerja pada potongan proyek yang sama yang membutuhkan proses bisnis yang konsisten, peralatan dan kerja sama erat. Dengan demikian, Fluor membutuhkan kemampuan untuk berhubungan dengan pakar mana pun di dunia. Fluor menggunakan komunitas pengetahuan dan platform teknologi Knowledge OnLineSM untuk mendukung pelaksanaan proyek secara global. Platform teknologi KM Fluor diposisikan sebagai mekanisme pengiriman tunggal untuk semua praktek dan prosedur, materi pelatihan, kolaborasi dan keahlian. Selama periode pertumbuhan yang cepat saat ini, fokus Fluor adalah untuk mendapatkan karyawan baru, memastikan tersedianya pelatihan dan para pakar yang dapat dengan cepat menanggapi pertanyaan-pertanyaan di forum diskusi. Arah strategi secara keseluruhan adalah retensi pengetahuan, berbagi dan berkolaborasi yang semuanya langsung terkait dengan lingkungan bisnis Fluor.

Selama lebih dari satu abad, Fluor telah memperluas jangkauan dan wilayahnya mengasah keahlian untuk mengkapitalisasi perubahan pasar. Sama seperti ruang lingkup bisnis kami terus berkembang, demikian juga pengetahuan kolektif dan keterampilan tenaga kerja kami. Fluor adalah suatu tempat latihan dan tempat membuktikan kemampuan di industri dimana Fluor bergerak, menawarkan  peluang dalam segala hal. Berkat sistem informasi global kami yang canggih, proses yang sudah terstandarisasi dan model pelaksanaan proyek yang tersebar, tim proyek di setiap lokasi memiliki tool untuk menjangkau  pengetahuan institusional yang mereka butuhkan untuk berhasil. Bersama-sama, karyawan Fluor terus saling membantu untuk membangun kekuatan dari pengalaman untuk mencapai satu demi satu milestone yang menakjubkan

Fluor Annual Report

Hampir 100 persen dari target tenaga kerja terlibat dalam satu atau lebih komunitas, berbagi pengetahuan secara global, memampukan proses kerja, dan membawa orang-orang baru sampai kepada irama kerja yang cepat. Fluor mendorong perilaku berbagi pengetahuan di seluruh organisasi. Setiap karyawan dapat bergabung dengan satu atau lebih komunitas pengetahuan, dan dapat memposting pertanyaan atau menjawab pertanyaan di Knowledge OnLine. Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan forum dalam Knowledge OnLine biasanya diterima dalam waktu 24 jam – sesuai dengan janji Fluor tentang komunitas yang handal dan responsif – memastikan bahwa semua karyawan dapat memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dalam sistem.

Dengan bergabung dalam sebuah komunitas pengetahuan, karyawan memiliki kesempatan untuk kemajuan karir, dan subject matter expert mendapat rekognisi dalam lingkup korporasi. Selain itu, Fluor mengintegrasikan tujuan berbagi pengetahuan ke dalam penilaian kinerja tahunan setiap karyawan untuk memastikan bahwa KM adalah suatu nilai yang ditanamkan dalam organisasi.

Knowledge OnLine adalah space di mana semua komunitas pengetahuan Fluor  berada. Tools ini mendukung kolaborasi perusahaan termasuk praktek-praktek dan prosedur, template, lesson learned, pengetahuan industri, kelompok fungsional, pakar global dan forum diskusi. Hal ini hanya terbuka untuk karyawan Fluor (Fluor menganggap Knowledge OnLine sebagai aset intelektual, sehingga orang luar tidak diberi akses).

Bagaimana transformasi organisasi Fluor melalui Knowledge Sharing secara korporat dan masa depan penerapan KM akan dipaparkan pada edisi berikutnya.