Paul Tobing On Knowledge

Knowledge Leader

October 24, 2009 · Leave a Comment

Oleh: Paul Lumbantobing (artikel ini sudah dimuat dalam majalah INSPIRE Edisi Agustus 2009)

Dalam rubrik Knowledge Management Inspire edisi Juli 2009 yang lalu, sudah dijelaskan bahwa penerapan knowledge management (KM) harus melibatkan elemen-elemen strategis perusahaan. Salah satu elemen strategis tersebut adalah leadership atau kepemimpinan. Di dalam leadership ada leader yaitu orang yang menjalankan kepemimpinan, ada visi dan values yaitu roh yang menggerakkan seorang pemimpin dan yang dipimpin, ada model kepemimpinan dan yang terakhir, tentu ada yang dipimpin.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: knowledge

Intellectual Capital dan Value Perusahaan

May 15, 2009 · 2 Comments

Pengantar: Peranan Intellectual Capital (IC) semakin strategis. Bahkan akhir-akhir ini memiliki peran kunci dalam upaya melakukan lompatan peningkatan value di berbagai perusahaan. Mari kita simak tulisan berikut ini. Beberapa tahun terakhir ini sudah ada beberapa perusahaan yang melengkapi laporan kinerjanya dengan laporan IC. Langkah ini didorong oleh kesadaran bahwa laporan keuangan tradisional telah kehilangan relevansinya. Nah untuk menyimak lebih jauh, mari kita simak tulisan berikut ini! Perhatian perusahaan terhadap pengelolaan IC beberapa tahun terakhir ini semakin besar. Hal ini disebabkan adanya kesadaran bahwa IC merupakan landasan bagi perusahaan untuk unggul dan bertumbuh. Kesadaran ini antara lain ditandai dengan semakin seringnya istilah knowledge based company muncul dalam wacana bisnis. Istilah tersebut ditujukan terhadap perusahaan yang lebih mengandalkan pengelolaan IC sebagai sumber keunggulan dan longterm growth nya. Knowledge based company adalah perusahaan yang diisi oleh komunitas yang memiliki pengetahuan, keahlian, dan keterampilan. Komunitas ini memiliki kemampuan belajar, daya inovasi, dan kemampuan problem solving yang tinggi. Ciri lainnya adalah perusahaan ini lebih mengandalkan knowledge dalam mempertajam daya saingnya, hal ini digambarkan dengan semakin mengecilnya investasi yang dialokasikannya untuk physical goods, sementara untuk soft factor mendapat alokasi investasi yang semakin besar. Investasi dalam soft factors ini disebut sebagai investasi di bidang IC. Sebagai akibatnya, value dari knowledge based company utamanya ditentukan oleh IC yang dimiliki dan dikelolanya. Tod Newcombe mengatakan bahwa sekitar 70% dari nilai perusahaan adalah berupa IC, bahkan 94% dari market value Microsoft Corp. adalah berupa IC. Mengapa IC semakin penting dan strategis? Jawabannya adalah intensitas persaingan yang semakin tinggi dan perubahan yang tidak lagi hanya bersifat dinamis tetapi juga sudah disruptif. Dalam kondisi seperti ini organisasi yang dapat mempertahankan eksistensinya adalah yang adaptif dan inovatif. Prasyarat untuk adaptif dan inovatif adalah organisasi memiliki kapabilitas belajar dan inovasi yang tinggi. Sampai saat ini masih ada berbagai definisi tentang Intellectual Capital. Tom Stewart mendefinisikan IC sebagai the sum of everything everybody in your company knows that gives you a competitive edge in the market place. Sedangkan Leif Edvinsson, Skandia, dan Pat Sullivan mendefinisikan IC sebagai knowledge yang dapat dikonversikan menjadi value. Model yang paling populer dari IC adalah seperti pada Gambar 1, yang mengklasifikasikan IC menjadi tiga bagian Capital yaitu Structural, Human dan Customer. Gambar 1. Value Creation dalam Model Intellectual Capital Human Capital menyangkut competency, skills, brainpower, expertise, kreatifitas, problem-solving capability, leadership, entrepreneurial dan managerial skills serta tacit knowledge yang embedded di SDM perusahaan. Structural Capital merupakan kapabilitas knowledge dari perusahaan yang memampukannya merespon kebutuhan dan tantangan pasar berupa teknologi, methodologi, dan proses. Gambar 1. Value Creation dalam Model Intellectual Capital Customer Capital menyangkut relasi, feedback, input terhadap product/ service, suggestion, experience dan tacit knowledge dari pelanggan. Istilah customer diperluas sehingga juga mencakup supplier, distributor, dan otoritas atau pemain lain yang dapat berkontribusi terhadap value chain. Ketiga jenis Capital tersebut membentuk tiga lingkaran yang saling mengait dan disatukan oleh sebuah segitiga. Value creation tergantung kepada proses iteratif dari Human Capital ke Structural Capital, Structural ke Customer, Customer ke Human Capital dan sebaliknya. Beberapa tahun terakhir ini sudah ada beberapa perusahaan yang melengkapi laporan kinerjanya dengan laporan IC. Langkah ini didorong oleh kesadaran bahwa laporan keuangan tradisional telah kehilangan relevansinya. Hal ini dibuktikan dengan adanya gap yang signifikan antara nilai buku perusahaan dengan persepsi pasar. Sehingga dapat dimengerti jika Bill Gates pernah berkata, ”Our primary assets, which are our software and our software-development skills, do not show up on the balance sheet at all”. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu definisi IC di atas, dikatakan bahwa IC merupakan knowledge yang dapat dikonversi menjadi value. Proses konversi IC menjadi value dapat digambarkan pada Gambar 2 berikut. Dari ilustrasi tersebut tergambar bahwa Intellectual capital merupakan fundasi yang melandasi proses value creation. Dengan memanage IC maka peningkatan revenue merupakan sesuatu yang dicapai by design dan merupakan hasil akhir dari efek ganda yang bergulir dari proses iteratif yang intensif antar elemen-elemen IC itu sendiri, antara IC dengan aset bisnis perusahaan dan berbagai inisiatif yang mengkonversikan IC dan aset bisnis lainnya menjadi value. Gambar 2 Mekanisme Konversi IC menjadi Value Dari mekanisme konversi yang diilustra-sikan di atas dapat dipahami bahwa strategi dan inisiatif perusahaan hanyalah puncak gunung es. Kunci sukses suatu perusahaan ditentukan oleh dasar gunung es yang bernama IC, yang merupakan sumber energi dan inspirasi yang tak habis-habisnya bagi insan perusahaan dalam melaksanakan strategi perusahaan.

→ 2 CommentsCategories: Intellectual Capital

Dialektika Perkembangan Psikologi

March 4, 2009 · Leave a Comment

Oleh M. Yusron

Menurut Peter Drucker, Manajemen adalah mengenai manusia, dan Ilmu Manajemen bisa begitu cepat berkembang karena telah tersedia ilmu2 pendukung mengenai manusia yang lebih dulu berkembang.

Dialektika adalah suatu bentuk logika. Bahwa realitas adalah bentuk resultan dari dua realitas yang kadangkala saling berlawanan. Sebagai contoh ritual kenduri dengan tumpeng dan tahlilan adalah suatu bentuk dialektika dari pengaruh Hindu dan pengaruh Islam jadi merupakan suatu bentuk akulturasi budaya dari upacara ala Hindu yang sudah ada sebelumnya dengan diberikan muatan doa2 ala Islam.

Perkembangan Psikologi merupakan suatu gambaran proses dialektika yang menyolok.

Psikologi pertama kali menjadi cabang Ilmu yang lepas dari Filsafat adalah dengan munculnya PSIKOANALISA yang dirintis oleh Sigmund Freud, Gustav Jung dan Alfred Adler. Pandangan psikoanalisa adalah bahwa
psikis manusia terdiri atas bagian sadar dan bagian tak sadar.
Psikis manusia bisa digambarkan sebagai gunung es dengan bagian dasar yang tidak kelihatan yaitu ketidaksadarannya dan hanya sebagian kecil puncak gunung yang kelihatan yaitu kesadarannya.

Ketidak-sadaran manusia dibentuk oleh masa lalunya semasa kecil. Struktur spikis manusia terdiri atas ID (naluri, tak sadar), EGO (logika, sadar) dan
SUPER EGO (moral, sadar). Hingga kini psikologi ketidaksadaran ini banyak digunakan untuk merancang iklan, kampanye politik, entertainment & metode pendidikan.

Bahwa manusia lebih dominan dikuasai ketidaksadarannya ternyata benar dan banyak fakta yang bisa mendukungnya.

Kemudian muncul serangan terhadap psikoanalisa sebagai tidak ilmiah dan hanya mewakili fenomena orang sakit karena memang banyak data2 klinis dipakai untuk mendukung Teori Freud yang diambil dari para pasiennya. Maka dibangunlah psikologi yang ilmiah yaitu BEHAVIORIEME dengan tokoh Thomas Watson, Ian Pavlov, dsb. Pandangan behaviorisme adalah bahwa perilaku manusia bisa diramalkan, perilaku manusia dibentuk oleh lingkungannya melalui mekanisme reward & punishment. Manusia adalah pembelajar dengan orientasi memaksimalkan dapat reward dan menghindari punishment.

Baik psikoanalisa dan behaviorisme mengasumsikan manusia sebagai obyek dan bukan subyek. Selanjutnya baik psikoanalisa dan behaviorisme dinilai sebagai pesimis dan tidak akan memperbaiki nasib manusia. Terhadap orang2 psikopat seperti Adolf Hitler tidak bisa disalahkan karena dia dibentuk oleh masa lalunya dan lingkungan sosialnya. Maka timbul suatu
gerakan untuk membangun psikologi yang mampu memperbaiki nasib umat manusia dan Muncullah PSIKOLOGI HUMANISTIK dengan tokoh Abraham Maslow, Herzberg, dkk. Menurut Maslow perilaku manusia didorong oleh motivasi. Motivasi didasarkan pada tingkat kebutuhannya yang berjenjang seperti piramida :
kebutuhan fisik makan dan minum, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri. Maslow meneliti ratusan tokoh2 dunia paling berhasil dan ternyata perilaku mereka terdorong oleh aktualisasi diri. Dan kemudian Maslow melengkapi Teorinya bahwa di atas aktualisasi diri masih ada kebutuhan Transendental yaitu kebutuhan akan makna hidup.

Dengan berkembangnnya teknologi pengolahan informasi dan teknologi komunikasi memunculkan PSIKOLOGI KOGNITIF yaitu suatu aliran psikologi yang mendasarkan bahwa perilaku manusia dibentuk berdasarkan bagaimana cara mereka mempersepsi, mengorganisasi dan mengolah informasi. Semua iklan dirancang untuk membangun AIDA (Awareness-Interest-Desired-Action) adalah suatu bentuk praktis dari psikologi kognitif. Psikoplogi Kognitif ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari Psikologi Gestalt.

PSIKOLOGI FENOMENOLOGI adalah suatu psikologi yang dipengaruhi oleh filsafat eksistensialisme dan filsafat fenomenologi yang bertujuan membangun psikologi dengan mendasarkan pada kesadaran diri manusia. Manusia bisa membangun psikisnya sendiri apabila kepadanya dibangunkan kesadaran dirinya, misalnya kesadaran akan keyakinan keagamannya, kesadaran nasionalismenya, kesadaran kelas sosialnya, kesadaran akan
keturunan dan rasnya. Dan ternyata psikologi yang menyentuh kesadaran diri manusia ini jauh lebih ampuh dan lebih mampu bertumbuh tiada batas dari semua aliran psikologi yang ada.

Salam,
M Yusron

Catatan :
Ada lima mazab psikologi :
PSIKOANALISA, BEHAVIORISME,
HUMANISTIK, KOGNITIF, FENOMENOLOGI

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Collabonomic

December 22, 2008 · 6 Comments

Oleh : Paul L. Tobing

 

Globalisasi telah membuat batas-batas ekonomi dan politik antar negara semakin berkurang relevansinya. Globalisasi yang diakselerasi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, membuat dunia sudah menjadi satu kesatuan, dimana setiap kejadian di satu negara selalu berpengaruh kepada negara-negara lainnya. Negara yang terisolasi biasanya akan menderita dan tidak dapat menikmati berkat-berkat dari apa yang dinamakan globalisasi. Tetapi sisi lain dari “berkat global” adalah “krisis global”, dimana

krisis yang dialami suatu negara (apalagi negara besar atau kuat ekonominya) akan cepat menular ke negara yang lain.

  Keep reading →

→ 6 CommentsCategories: Management
Tagged: , , ,

Melupakan Esensi, Menuai Krisis

November 20, 2008 · Leave a Comment

 Oleh  Paul L. Tobing

 

Esensi yang berasal dari katan essence yang menurut kamus Longman berarti the most basic and important quality of something, merupakan kata yang ramai-ramai dilupakan dalam berbagai ranah kehidupan di tanah air tercinta ini. Akibatnya kita mencurahkan banyak tenaga, pikiran, biaya dan sumber daya lainnya untuk hal-hal yang kurang penting atau mengurus kulit-kulit suatu permasalahan tanpa sama sekali menyentuh apalagi menyelesaikan inti dari permasalahan itu sendiri.

  Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: General
Tagged:

Kita Lemah Dalam Pemanfaatan Pengetahuan

September 2, 2008 · 3 Comments

Oleh : Paul L. Tobing 

Akhir-akhir ini sering muncul fenomena brain migration, yaitu suatu istilah berpindahnya orang-orang berpengatahuan (knowledge worker) dari tanah air ke luar negeri. Mereka memilih berkarya di negeri lain dengan berbagai alasan. Maurer dkk (2003) dalam sebuah tulisannya yang berjudul “retaining knowledge by retaining technical professional” menyatakan bahwa “the intellectual capital of knowledge worker is more mobile than the other competitive resource”. Artinya kesisteman organisasi perlu dibenahi untuk menahan mobilitas para knowledge worker ini.

  Keep reading →

→ 3 CommentsCategories: Uncategorized

Resensi Buku – Knowledge Management dalam Organisasi Modern

August 8, 2008 · Leave a Comment

Oleh Dyah Sulistyorini Jakarta

Resensi Buku – Knowledge Management dalam Organisasi Modern Oleh Dyah Sulistyorini Jakarta (ANTARA News) – Isu tentang implementasi Manajemen Pengetahuan atau Knowledge Management (KM) sebagai hal penting untuk meningkatkan kinerja perusahaan, belakangan semakin banyak dibicarakan dalam kaitan manajemen modern.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Rapuhnya Modal Intelektual Kita

July 22, 2008 · 1 Comment

Oleh Paul L. Tobing

 

Bangsa Indonesia sudah lama hidup dalam kondisi yang ironis, hidup miskin di bumi yang kaya raya, secara politik sudah demokratis tetapi secara ekonomi sangat kapitalis, kekuasaan sudah terdistribusi tetapi juga sekaligus diikuti distribusi korupsi. Mengapa negara ini tidak mampu mengolah kekayaan manusia, budaya dan alam yang begitu berlimpah menjadi sumber kesejahteraan dan kekayaan yang lebih permanen? Mungkin jawabannya dapat ditelusuri dengan memotret kondisi modal intelektual yang dimiliki negara ini..

  Keep reading →

→ 1 CommentCategories: Uncategorized

Bandung Knowledge City

July 11, 2008 · 3 Comments

Paul L.Tobing/Dimuat di Harian Pikiran Rakyat, Awal September 2007

 

Karakter kota Bandung saat ini sudah semakin tidak jelas dan kabur. Padahal identitas kota itu penting dan menjadi daya tarik utama untuk didiami oleh warga dan untuk dikunjungi warga kota atau negara lainnya. Berbagai slogan sudah pernah disebarkan, tetapi sepertinya belum ada yang “menendang” dan mampu merubah karakter kota ini.

Keep reading →

→ 3 CommentsCategories: Uncategorized